Artikel ini membahas tentang karya sastra Mandailing yang berjudul Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk karya Willem Iskander pada era kolonial. Tinjauan ini dimulai dengan melihat fenomena yang terjadi dalam penciptaan dan penerbitan teks tersebut. Teks Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk dan kehidupan pengarangnya sangat kontradiktif dan paradoks. Di satu sisi mewacanakan resistensi namun di sisi lain mewacanakan konstruksi kolonial. Untuk mengkaji fenomena tersebut, penulis menggunakan pendekatan pascakolonial dan metode diskursif. Penulis menggunakan diskursus yang dibangun oleh dua orang pakar yang fokus meneliti tentang teks Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk dan Willem Iskander. Kedua pakar tersebut yaitu, Rodgers dan Harahap. Melalui metode diskursif ini, penulis mengkonstruksi ulang pendapat kedua pakar tersebut dengan menggunakan perspektif pascakolonial. Selain melihat teks, penulis juga melihat konteks sosial, politik, dan budaya orang Mandailing sebagai pendukungnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Willem Iskander merupakan tokoh yang ambivalen. Tokoh yang menyuarakan resistensi dan tokoh yang patuh pada konstruksi kolonial.
Copyrights © 2019