Swara Bhumi
Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT UNTUK BERTAHAN TINGGAL DI DAERAH BENCANA LUMPUR LAPINDO

IMANUEL P, DRIANDA (Unknown)



Article Info

Publish Date
23 Jun 2016

Abstract

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT UNTUK BERTAHAN TINGGAL DI DAERAH BENCANA LUMPUR LAPINDO DRIANDA IMANUEL PRASETYA Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya, drianda_yanda@yahoo.co.id Dra. Ita Mardiani Zain, M.Kes Dosen Pembimbing Mahasiswa     Abstrak Daerah bencana lumpur Lapindo (Zona 1) adalah daerah/wilayah yang berada pada radius 0 – 1,5 km dari tanggul penahan lumpur Lapindo dan wilayah ini sudah ditetapkan oleh Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) sebagai wilayah yang tidak layak dihuni. Terdapat 7 desa berpenghuni yang termasuk wilayah Zona 1 yang merupakan daerah penelitian, antara lain Kalitengah, Kedungbendo, Ketapang, Gedang, Mindi, Glagaharum dan Besuki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi masyarakat untuk bertahan tinggal di daerah bencana lumpur Lapindo dan mengetahui kondisi kehidupan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah bencana lumpur Lapindo. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survei. Lokasi penelitian dilakukan di desa-desa yang termasuk wilayah Zona 1 bencana lumpur Lapindo. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat berdasarkan Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di wilayah Zona 1. Sampel dalam penelitian ini 100 KK yang tersebar di 7 desa. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data setiap variabel yang terkumpul selanjutnya diskoring, dihitung dan dipersentase dan dibandingkan dengan hasil persentase dari variabel lainnya. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif persentase. Hasil dari penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk bertahan tinggal di daerah bencana lumpur Lapindo menunjukkan anggapan masyarakat bahwa tanah yang mereka tempati merupakan tanah kelahiran merupakan faktor dominan yang berpengaruh (87%). Pekerjaan masyarakat yang sebagian besar merupakan pedagang/wirausaha dan berdagang di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka mempunyai pengaruh (74%), karena pekerjaan tersebut tidak bisa mereka tinggalkan dan pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Murahnya harga ganti rugi yang ditawarkan juga mempengaruhi masyarakat untuk bertahan tinggal di daerah bencana lumpur Lapindo (81%), selain itu anggapan masyarakat mengenai mahalnya harga rumah di tempat relokasi (67%) juga berpengaruh bagi masyarakat untuk masih menetap di daerah bencana lumpur Lapindo. Transportasi juga mempengaruhi masyarakat dengan persentase 56%, meskipun pengaruh ini adalah yang terkecil dari yang lainnya. Hasil penelitian untuk kondisi kehidupan masyarakat daerah bencana lumpur Lapindo menunjukkan sebagian besar masyarakat dengan persentase 49% hidup dalam kondisi ekonomi menengah dengan penghasilan berkisar Rp 1.000.000 hingga Rp 2.999.999 setiap bulannya. Kondisi kesehatan masyarakat sudah terganggu oleh gas yang ditimbulkan semburan lumpur Lapindo, karena sebagian besar masyarakat pernah terserang dan mempunyai riwayat penyakit Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) (54%). Kondisi kesehatan masyarakat daerah bencana lumpur Lapindo tertolong oleh adanya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang terdapat hampir di setiap desa dan sebagian besar masyarakat (58 %) lebih memilih untuk ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) karena letak terjangkau dan tarif untuk berobat murah. Kata kunci : Daerah bencana, wilayah bencana, lumpur Lapindo    Abstract  Lapindo mud disaster areas (Zone 1) is an area region located at a radius of 0-1,5 Km from the Lapindo mud embankment and the area has been designated by Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) as an area which not decent to live. There are seven inhabited village that includes areas of Zone 1 which is an area of this research, among others Kalitengah, Kedungbendo, Ketapang, Gedang, Mindi, Glagaharum and Besuki. This research aims to know what the factors are influencing the people to survive living in this area and know the living conditions of the people who lived in the area of Lapindo mud disaster. This type of research used in this study is a survey research. The Location of this research is in villages which including area of Zone 1 Lapindo mud disaster. The population in this study is a community based on families who lived in Zone 1. The sample was 100 households spread over 7 villages. Data collection techniques in this research is through interview, observation and documentation. The Collected data in every variable rated,, and changed into percent calculated and compared with the percentage of the other variables. Data analysis techniques in this study using quantitative descriptive percentages. The results of this research about factors that affected people to living in the area of Lapindo mud disaster,  shows that public perception that the land they occupy is the birthplace is dominant factors that influence (87%). Community work, which are mostly traders / entrepreneurs and trade around their neighborhood have an influence (74%), because such work they can not leave and this work is for daily needs. The inexpensive price of compensation offered is also influenced people to stay living in the area Lapindo mud disaster (81%), besides the public perception about the high prices of houses in the relocation sites (67%) were also influential for people to still live in the area Lapindo mud disaster. Transportation also affects the people with a percentage of 56%, although this influence is the smallest of the others. Results of research on the living conditions of local communities Lapindo mud disaster showed most people with a percentage of 49% live in middle-income economic conditions ranging from Rp 1,000,000 to Rp 2,999,999 per month. The healthy condition of the people has been disturbed by the gases generated Lapindo mudflow, because most people ever attacked and had a history of ISPA (54%). Public health conditions Lapindo mud disaster areas aided by the Community Health Center (Puskesmas) located almost in every village and most people (58%) prefer to go to the health center (Puskesmas) because the location of affordable and cheap rates for medical treatment. Keywords :  Disaster area, Lapindo Mud.

Copyrights © 2016