ABSTRAKDalam mengecilkan atau mengabaikan kreativitas, kita hambat perkembangan aspek dasar kemampuan berekspresimanusia. Tiap anak berpotensi jadi seniman, musisi, penulis, atau penemu, jika minatnya menggiring demikian dan jikaorang tua dan guru mendukungnya ketimbang mengekang dorongan ini. Kenyataan bahwa sedikit orang jadi senimanmerupakan bukti rendahnya prioritas masyarakat bagi kreativitas dan tingginya prioritas bagi keseragaman [1]. Disampingitu pula Anak-anak layak untuk mendapatkan sebuah lingkungan sehat untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusiayang utuh baik secara jasmani dan rohani. Dikota kendari khususnya tingginya angka kelahiran anak dan minat anakterhadap Pendidikan Anak Usia Dini, dan sebagian lembaga Pendidikan Anak Usia Dini dikota kendari masih kurangdalam hal sarana dan prasarana yang tidak berimbang terhadap program layanan yang dibuat, sehingga Konseppembelajaran yang dibuat terkesan monoton. Demikian adanya Pusat pengembangan kreativitas anak di Kendari ditunjangdengan fasilitas yang memenuhi standar, memadai, dan sesuai dengan metode belajar yang ideal bagi anak dengan programlayanan terdiri dari Taman penitipan anak ( bayi usia 3 bulan-2 tahun), Kelompok bermain (anak usia 2-4 tahun), Tamankanak-kanak (anak usia 4-6 Tahun), dan ditunjang dengan Creative school ( anak usia 2-6 tahun). Konsep pembelajaranmenekankan lebih pada kreativitas anak, budaya, dan lingkungan yang ramah sebagai pembelajaran terhadap alam.Pendekatan Arsitektur Ekologi digunakan sebagai metode pendekatan desain. Konsep arsitektur ekologi diharapkan dapatmampu menyatukan ruang dan alam sebagai kawasan hijau diantara pembangunan dan menghadirkan lingkungan fisikyang ramah tehadap anak-anak. Disamping itu pula agar anak sadar terhadap lingkungan fisik di sekitar mereka. Energi danpikiran mereka lebih disalurkan ke lingkungan alami sebagai proses pendidikan.Kata Kunci : Kreativitas, Anak, Arsitektur Ekologi, Kendari.
Copyrights © 2017