ABSTRAKKarawitan adalah bagian dari hidup oleh masyarakat Solo. Kondisi psykologis masyarakat Solo juga mempengaruhi berkembangnya karawitan di kota budaya. Salah satunya fenomena karawitan putri yang sampai saat ini masih terdengar meski lirih gaungnya di lingkungan seniman Solo dan sekitarnya. Sekitar tahun 80an karawitan putri mulai bermunculan, seiring diadakannya Lomba Karawitan Putri di Radio Republik Indonesia (RRI Surakarta). Fokus dari penelitian ini adalah karawitan sekar praja putri dimana karawitan putri masih diterima baik oleh masyarakat dan mampu bertahan walaupun telah digerus jaman. Sampai sekarang karawitan putri terus berkembang, adanya sekolah seni SMK N 8 Surakarta (SMKI/ Konser Vatori Surakarta) dan Perguruan Tinggi Seni (ASKI menjadi STSI sekrang ISI Surakarta) serta sanggar-sanggar seni menjadikan karawitan selalu ada dan tetap hidup.Kata Kunci: karawitan, karawitan putri. ABSTRACTKarawitan is a part of life for the people in Solo. The psychology condition of Solo community also influenced the development of karawitan in the cultural city. One of them is the female karawitan which is still heard, until now even with the soft echo among the Solo artists and its surroundings. In 1980s the female karawitan music began to emerge, along with the Women's Karawitan Contest that was held at Radio Republik Indonesia (RRI Surakarta). Focus of this research is the Karawitan Sekar Praja Putri with the female musicians which are still well received by the community and are able to survive even though it has been crushed by the era. The female karawitan continues to grow until now. The existence of SMKN 8 Surakarta (Vocational High School), ISI Surakarta (Indonesia Institution of Arts) and art studios make karawitan always exist and stay alive.Keywords: karawitan, female karawitan.
Copyrights © 2019