Artikel ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan berbagai jenis sate yang terdapat pada gayah di Desa Sembung, Mengwi, Badung; (2) mendeskripsikan rupa sate yang terdapat pada gayah di Desa Sembung,Mengwi, Badung; (3) mendeskripsikan simbol sate pada gayah tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, digunakan metode observasi dan wawancara dalam pengumpulan data. Wawancara dilakukan kepada salah satu tukang banten senior yang ada di Desa Sembung, Mengwi, Badung, yakni A.A. Made Oka.Berdasarkan observasi dan wawancara tersebut diperoleh hasil sebagai berikut. Sate-sate yang digunakan pada gayah di Desa Sembung, Mengwi, Badung, dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu: sate pengideran adalah sate yang melambangkan senjata Dewata Nawa Sanga (sembilan Dewa yang menguasai arah mata angin) Sate pengurip-urip berfungsi sebagai penunjuk jumlah urip setiap sate pengideran atau Dewata Nawa Sanga, sate ini juga bisa dipakai sebagai hiasan pada gayah agar kelihatan lebih ramai dan menarik. Sate penguripan itu antara lain, sate lembat, sate kablet, dan sate asem yang memiliki makna penciptaan. Sate hiasan adalah simbol dari isi bumi/alam semesta (Bhuana agung), antara lain: sate kuung tunggal, lambang tumbuhan plawa maknanya kesuburan, sate ancak/bingin, lambang pohon bringin maknanya keagungan. Sate lawangan, lambang Candi bentar maknanya sebagai pintu masuk. Sate nagasari, lambang plawa yang paling indah, makna dari sate nagasari adalah kemegahan. Sate cepun, cepun adalah nama bunga, sate ini memiliki makna keasrian, dan sate cepaka, lambang bunga cepaka yang memiliki makna keindahan.
Copyrights © 2010