Upacara grebeg di Kasultanan Yogyakarta menonjolkan sistem relegi agama Islam mulai dari hari pelaksanaan upacara yang jatuh pada hari-hari kebesaran agama Islam, yakni Grebeg Mulud, setiap tanggal 12 Mulud; Grebeg Pasa pada tanggal 1 Sawal/Syawal dan Grebeg Besar pada tanggal 10 Besar/Dzul-Hijjah. Grebeg mulud dikaitkan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W; Grebeg Pasa dikaitkan dengan Hari Raya Idul Fitri: dan Grebeg Besar dikaitkan dengan Hari raya Idul Adha. Hal ini menjadi menarik untuk dikaji ulang. Sebab, upacara grebeg yang dahulu – menurut sejarah – menjadi kebiasaan ritual kerajaan dan orang-orang berkepercayaan Hindu, kini menjadi sangat ’dekat’ dengan agama Islam. Tentu saja leluhur kerajaan Hindu terutama Majapahit dahulu dalam melakukan ritual tidak sekedar melakukannya sebagai sebuah kebiasaan. Ada sebuah simbol-simbol yang hanya diketahui oleh leluhur pada jaman dahulu. Dengan kata lain, upacara grebeg yang dilakukan dipastikan memiliki arti, fungsi dan makna tersendiri yang ada kaitannya dengan ajaran-ajaran agama Hindu pada masanya. Terkait dengan penelitian ini, penulis tertarik untuk mengkaji ulang dari sisi bentuk, fungsi dan makna yang terkandung dalam gunungan kakung dan gunungan putri dalam upacara grebeg. Gunungan merupakan sarana inti dalam pelaksanaan upacara grebeg. Nilai-nilai luhur upacara grebeg Kasultanan Yogyakarta yang berkaitan dengan ajaran Agama Hindu, yaitu; Tatwa, Susila, dan Acara
Copyrights © 2012