Cerita prose daJam tradisi sastra Aceh disebut haba (Arab: khabar). Haba dipandang sebagai jenis cerita yang tidak serius sebab biasanya disampaikan dalam suasana santai, sebagai cerita perintang waktu. Karena sifat penyampaiannya yang demikian, maka haba umumnya pendek-pendek dan hampir selalu merupakan cerita yang penuh dengan unsur-unsur kejenakaan. Haba selalu disampaikan secara lisan, dan diwarisi seeara turun temurun dari mulut ke mulut. Karya-karya haba dapat dikatakan tidak pernah diturunkan ke dalam bentuk tertulis. Naskah-naskah haba yang kini tersimpan di Universiteir Bibliotheek Leiden (UBL) bukanlah naskah budaya (naskah yang terpakai di dalam masyarakat), melainkan ditulis atas permintaan kolektor-kolektor Belanda pada masa itu. Naskah ditulis dalam huruf Jawoe (Melayu: Jaw ) dan Latin dengan memakai kertas folio bergaris yang bersih dari bekas-bekas keringat.
Copyrights © 1991