Dewa Ruci : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Vol 12, No 1 (2017)

Melongok klenengan di Radio Republik Indonesia Surakarta

T. Slamet Suparno (Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Surakarta)



Article Info

Publish Date
16 Jul 2017

Abstract

Tulisan berjudul “Melongok Klenengan di Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta” ini didasarkan atas pengamatan terhadap kelompok-kelompok karawitan yang melaksanakan klenengan di RRI Surakarta pada pertengahan tahun 2015 selama 6 (enam) bulan. Pendekatan dilakukan secara sosiologis perspektif Hauser dengan metode kualitatif. Pertanyaan yang dirumuskan adalah kelompok karawitan mana saja yang melaksanakan klenengan, bentuk gending seperti apa dengan repetoar apa saja yang menjadi bahan klenengan, dan kecenderungan seperti apa kelompok karawitan melaksanakan klenengan di RRI Surakarta. Hasil yang dicapai yakni dapat dinyatakan bahwa para kelompok karawitan di wilayah Solo Raya cenderung mengikuti selera pasar yang menghibur, ramai, dan gobyok yang merupakan sifat gending-gending populer. Namun demikian, sejumlah lembaga “kebudayaan” yakni HMJ ISI Surakarta, Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, dan RRI Surakarta, masih merawat gending-gending klasik, meskipun ada kecenderungan ke arah populer.Kata kunci: klenengan, klasik, populerABSTRACTThe article entitled “An Investigation of Klenengan at Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta” is based on an observation of the karawitan groups which performed klenengan at RRI Surakarta over a period of six months around the middle of 2015. A sociological approach with Hauser’s perspective is used, together with a qualitative method. The questions formulated for the study are: which karawitan groups played klenengan, which forms of gending and what repertoire were used as the klenengan material, and what were the tendencies of the karawitan groups that performed klenengan at RRI Surakarta. The results show that the karawitan groups from the Solo area which performed klenengan at RRI Surakarta were inclined to follow market preference by performing popular gending with an entertaining, lively, and vibrant character. Nevertheless, a number of “cultural” institutions, such as HMJ ISI Surakarta, Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, and RRI Surakarta, still chose to play classical gending, although there was a tendency towards those of a popular nature.Keywords: klenengan, classical, popular.

Copyrights © 2017






Journal Info

Abbrev

dewaruci

Publisher

Subject

Arts Education Languange, Linguistic, Communication & Media Other

Description

International Journal of Visual and Performing Arts draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of new visual and performing arts. It acts as a forum for critical scholarship, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be ...