Religious harmony becomes more strong if it has any basis of historical experience. Such harmony is created by the community. The Muslim community of East Loloan- Bali becomes a model of this kind of creation of harmony. Although Muslims in Bali are minority in the number, they are free to perform their worship. There is a meeting point (kalimatun sawa’) from both Muslim and non-Muslim communities for a long time. In the past, they had the same commitment against the invaders. This togetherness is maintained until now in a different form. Although one of the Muslim leaders was in power in the community, the power is handed back to the Hindu community to maintain the continuity of harmonious relation among adherents of different religions. This tradition is maintained well up to now. Keywords: harmony, history, religiousness Kerukunan umat beragama makin menjadi kokoh jika mempunyai landasan pengalaman sejarah. Kerukunan seperti ini terbangun dengan sendirinya oleh masyarakat. Komunitas Muslim Loloan Timur Bali menjadi contoh model penciptaan kerukunan jenis ini. Meski muslim Bali termasuk minoritas dari sisi jumlah, mereka bebas menjalankan ibadahnya. Ada titik temu ( kalimatun sawā’) dari kedua belah pihak sejak lama. Dahulu melawan penjajah adalah komitmen bersama. Kebersamaan ini dipertahankan hingga kini dengan bentuknya yang lain. Meski salah satu tokoh Islam sempat berkuasa di Komunitas Loloan, toh akhirnya kekuasaan itu diserahkan kembali ke masyarakat Hindhu untuk menjaga keberlangsungan hubungan antar pemeluk agama yang berbeda ini. Kebertahanan tradisi menjaga kerukunan ini hingga kini masih bisa dirasakan. Kata Kunci: kerukunan, sejarah, keberagamaan
Copyrights © 2011