pengendalian kualitas. PT. X menggunakan prosentase produk (peleg) cacat sebagai usaha pengendaliankualitasnnya. Perusahaan tidak lebih lanjut membandingkan ukuran tersebut dengan suatu nilai standar /target yang memiliki hubungan terhadap factor-faktor penting dalam proses produksi, seperti biaya produksidan nilai tambah yang dihasilkan. Sehingga perusahaan tidak dapat mengetahui hubungan naik turunnyaprosentase produk cacat dengan naik turunnya nilai tambah yang dihasilkan.Penelitian ini mencoba mencari nilai standar prosentase produk cacat berdasarkan besarnya nilai tambahyang dihasilkan dalam suatu proses produksi. Berdasarkan data produk cacat harian selama satu bulan prosesproduksi, Jumlah produksi harian dan biaya yang dikeluarkan perusahaan pada proses produksi tersebut,dapat ditentukan besarnya prosentase produk cacat, besarnya biaya penanganan produk cacat dan besarnyanilai tambah yang dihasilkan. Dengan menggunakan regresi linier sederhana dapat ditentukan prosentaseproduk cacat maksimum yang masih menguntungkan bagi perusahaan.Nilai prosentase produk cacat yang masih menguntungkan bagi perusahaan adalah yang lebih kecil dari8,545%. Pada nilai-nilai prosentase produk cacat tersebut, nilai tambah akan selalu lebih besar dibandingbiaya produk cacat. Pengendalian kualitas yang selama ini dijalankan pada PT X sudah cukup baik bilamelihat data prosentase produk cacat yang dipakai pada penelitian ini, semuanya berada relatif jauh dibawah8,545%. Nilai standar prosentase jumlah cacat yang diajukan pada penelitian ini merupakan pilihanberdasarkan nilai tambah yang ingin dicapai oleh perusahaan. Keputusan penentuannya diserahkan padaperusahaan.
Copyrights © 2007