Pemodelan perubahan iklim memerlukan komputasi yang berat dan rumit sehingga awal perkembangannya hanya terbatas pada beberapa institusi saja. Salah satu perangkat generator skenario iklim yang banyak digunakan adalah MAGICC/SCENGEN (Hulme et al., 2000). Perangkat lunak dan algoritma dalam MAGICC (Model for the Assessment of Green -house gas-Induced Climate Change) sama dengan yang digunakan dalam proyeksi suhu dan paras air laut di dalam Laporan Kajian Ketiga dari Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC, 2001). Sedangkan SCENGEN ( Spatial Climate-Change Scenario Generator ) merupakan algorithma untuk menghasilkan skenario perubahan iklim regional dengan resolusi 2.5°Ã2.5° lintang dan bujur.Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat perubahan iklim (temperatur udara dan curah hujan) Indonesia dengan simulasi model MAGICC-SCENGEN (Model sirkulasi global CCSR/NIES Jepang, dan CSIRO Australia) dengan skenario A2-AIM dan B2-AIM.Perubahan suhu rata - rata global berdasarkan skenario A2-AIM dan B2 AIM meningkat secara linier. Kedua skenario dengan tingkat focus yang berbeda meskipun untuk wilayah yang sama menunjukkan laju yang berbeda. Hal ini menegaskan terjadinya kenaikan suhu rata-rata untuk masa yang akan datangKabupaten Tuban menghasilkan pola yang berbeda dan tidak teratur. Secara umum model memproyeksikan kenaikan presipitasi yang cukup tinggi pada bulan -bulan basah (Desember â Februari) dan pada bulan-bulan peralihan antar musim (Maret â Mei dan September âNovember), namun perubahan presipitasi relatif sedikit meningkat atau menurun pada bulan-bulan kering.Terjadinya kecenderungan kenaikan presipitasi pada bulan basah seperti yang diperlihatkan oleh oleh hasil pemodelan
Copyrights © 2012