Upaya-upaya penafsiran al-Quran tentu saja selalu dilakukan dalam rangka menggapai hasil penafsiran yang paling mirip dengan yang diinginkan oleh Yang Menurunkan al-Quran sekaligus sesuai dengan perkembangan dinamika kemampuan manusia dalam menafsirkan al-Quran itu sendiri. Untuk sampai ke sana, penafsir kadang terjebak dalam subjektivitasnya hingga terlalu dalam mengintervensi makna al-Quran menurut keinginannya. Di sisi lain, penafsir kadang pula terlalu objektif hingga tafsir yang dihasilkan terasa tidak mengalami perkembangan berarti dari masa ke masa. Tampaknya problem ini bisa diselesaikan oleh tafsîr maudhû’î. Langkah paling mendasar dari tafsîr maudhû’î yang membedakannya dengan cara penafsiran yang lain adalah penentuan tema dan pengumpulan semua ayat yang memiliki tema yang sama meski dengan konteks berbeda. Langkah seperti ini memberikan ruang yang lebih besar kepada penafsir tanpa harus meninggalkan teks-teks suci. Tulisan ini akan melihat asumsi-asumsi tafsîr maudhû’î secara sederhana lalu membandingkannya dengan asumsi-asumsi yang ada dalam hermeneutika secara umum. Hal ini dilakukan untuk memahami posisi tafsîr maudhû’î di tengah cara-cara penafsiran yang lain.Kata kunci: hermeneutika, tafsîr maudhû’î, subjektivitas, objektivitas
Copyrights © 2016