Nawawi, Abdul Muid
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Hermeneutika Tafsîr Maudhû’î Nawawi, Abdul Muid
SUHUF Vol 9 No 1 (2016)
Publisher : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22548/shf.v9i1.119

Abstract

Upaya-upaya penafsiran al-Quran tentu saja selalu dilakukan dalam rangka menggapai hasil penafsiran yang paling mirip dengan yang diinginkan oleh Yang Menurunkan al-Quran sekaligus sesuai dengan perkembangan dinamika kemampuan manusia dalam menafsirkan al-Quran itu sendiri. Untuk sampai ke sana, penafsir kadang terjebak dalam subjektivitasnya hingga terlalu dalam mengintervensi makna al-Quran menurut keinginannya. Di sisi lain, penafsir kadang pula terlalu objektif hingga tafsir yang dihasilkan terasa tidak mengalami perkembangan berarti dari masa ke masa. Tampaknya problem ini bisa diselesaikan oleh tafsîr maudhû’î. Langkah paling mendasar dari tafsîr maudhû’î yang membedakannya dengan cara penafsiran yang lain adalah penentuan tema dan pengumpulan semua ayat yang memiliki tema yang sama meski dengan konteks berbeda. Langkah seperti ini memberikan ruang yang lebih besar kepada penafsir tanpa harus meninggalkan teks-teks suci. Tulisan ini akan melihat asumsi-asumsi tafsîr maudhû’î secara sederhana lalu membandingkannya dengan asumsi-asumsi yang ada dalam hermeneutika secara umum. Hal ini dilakukan untuk memahami posisi tafsîr maudhû’î di tengah cara-cara penafsiran yang lain.Kata kunci: hermeneutika, tafsîr maudhû’î, subjektivitas, objektivitas
POWER POLITICS IN THE QURᾹN: HIZBUT TAHRIR INDONESIA AND THE CONCEPT OF CALIPHATE IN AL-WA'IE BY ROKHMAT S. LABIB Sareh, Nurkholis; Nawawi, Abdul Muid
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 7 No 1 (2022): Volume 7 No. 1, June 2022
Publisher : The Department of the Qur'anic Studies, Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Institute of Islamic Studies (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at-tibyan.v7i1.3889

Abstract

Power politics is a sovereign entity that aims to protect the interests of individuals and groups. The disharmony of Islamic politics triggered by stigma, discrimination, and persecution of the authorities against the people causes radicalism and intolerance of the concept of the state. Hizbut Tahrir, with textual interpretation dominatingly intervened by ideological reasoning, produced controversial sectarian revivalist thoughts, far from the universal message of the verse and its maqāṣidī meaning. This study examines the concept of power politics in the Quran through the theological analysis of the khilāfah in al-Wa'ie. The method used in this study includes a descriptive-qualitative analysis of mauḍū'ī interpretation through a context and content approach. This study concludes that the power politics of scripturalist, textualist, and fundamentalist interpretations in al-Wa'ie is far from authoritative (mu'tabar) scholars' thoughts or interpreted by jumping to conclusions, such as in solving al-Baqarah [2]: 30, al-Nisā' [4]: ​​59, and al-Mā'idah [5]: 49. The verses of the power politics clearly state that the khilāfah is an institution of civilization within state sovereignty, not a political conception that is taken for granted that negates Islam or a modern Islamic government system that substantially contains the principles of siyāsah and maqāṣid al-syāri'ah.
HISTORIOGRAFI TAFSIR AL-QUR’AN DI BUGIS: SEJARAH DAN DINAMIKA Hamzah, Idil; Bakti, Andi Faisal; Nawawi, Abdul Muid
Al-Munir: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Al-Munir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/al-munir.v6i2.779

Abstract

Tulisan ini membahas sejarah dan dinamika tafsir Al-Qur’an di Bugis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang sumber datanya diperoleh dari kepustakaan (Library research). Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Sejarah dan dinamika tafsir Al-Qur'an di Bugis mencerminkan kontinuitas dan perubahan dalam upaya memperluas pemahaman agama Islam di Sulawesi Selatan. Dengan adaptasi budaya lokal melalui penggunaan bahasa Bugis atau aksara Lontara, tafsir Al-Qur'an di Bugis menjadi instrumen untuk memperluas aksesibilitas dan inklusivitas terhadap pengetahuan agama bagi masyarakat. Perjalanan panjang tafsir Al-Qur'an di Bugis dimulai sejak era KH. Muhammad As'ad, yang merupakan salah satu tokoh utama dalam pengembangan pondok pesantren As'adiyah di Sulawesi Selatan. Pada tahun 1948, AG. H. Muhammad As'ad menulis tafsir pertama dalam bahasa Bugis yang diberi judul "Tafsir Surah Ammah bi Al-Lugha Al-Bughisiyyah", yang kemudian menjadi tonggak awal bagi perkembangan tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Bugis di daerah tersebut. Pondok pesantren ini telah memainkan peran penting dalam pengembangan tafsir Al-Qur'an di Sulawesi-selatan. Institusi ini tidak hanya menyediakan tempat untuk belajar agama, tetapi juga menjadi pusat pemikiran dan produksi intelektual yang pada masanya juga menulis kitab tafsir seperti AG. H Yunus Martan, AG. H Abdullah Pabbaja AG. H Hamzah Manguluang, AG. H. Daud Ismail dan AG. H Mu’in Yusuf.
Hermeneutika Eksistensial Transendental Mullâ Shadrâ: Mencari Akar Fundamental Moderasi Beragama Nawawi, Abdul Muid; Mulyani, Mulyani
Emanasi : Jurnal Ilmu Keislaman dan Sosial Vol 5 No 2 (2022): Jurnal Emanasi Volume 5 Edisi 2 Tahun 2022
Publisher : Asosiasi Dosen Peneliti Ilmu Keislaman dan Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak tragedi kemanusiaan yang muncul akibat ektsrimisme beragama. Tulisan ini berupaya menjelaskan dan memberikan argumen bahwa akar dari persoalan ekstrimisme agama terletak pada kegagalan dalam mengenal esensi agama dan kesataraannya dengan kemanusiaan itu sendiri. Dalam konteks Islam, melalui hermeneutika Mulla Shadra tulisan ini berupaya menjelaskan bahwa Al-Qur’an, manusia dan alam merupakan tiga aspek dari realitas eksistensi yang tunggal. Pengenalan ini membawa ketiganya pada puncak dimensi sakral dan perenialnya sehingga dapat mengantisipasi ekstrimisme keagamaan dari sisi genealogi kesadarannya. Pendekatan hermeneutika filosofis menjadi jalan kontemplasi penalaran tulisan ini yang merupakan perpaduan antara metodologi Henry Corbin dan Mulla Shadra.
POWER POLITICS IN THE QURá¾¹N: HIZBUT TAHRIR INDONESIA AND THE CONCEPT OF CALIPHATE IN AL-WA'IE BY ROKHMAT S. LABIB Sareh, Nurkholis; Nawawi, Abdul Muid
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 7 No 1 (2022): Volume 7 No. 1, June 2022
Publisher : The Department of the Qur'anic Studies, Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Institute of Islamic Studies (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at-tibyan.v7i1.3889

Abstract

Power politics is a sovereign entity that aims to protect the interests of individuals and groups. The disharmony of Islamic politics triggered by stigma, discrimination, and persecution of the authorities against the people causes radicalism and intolerance of the concept of the state. Hizbut Tahrir, with textual interpretation dominatingly intervened by ideological reasoning, produced controversial sectarian revivalist thoughts, far from the universal message of the verse and its maqāṣidī meaning. This study examines the concept of power politics in the Quran through the theological analysis of the khilāfah in al-Wa'ie. The method used in this study includes a descriptive-qualitative analysis of mauḍū'ī interpretation through a context and content approach. This study concludes that the power politics of scripturalist, textualist, and fundamentalist interpretations in al-Wa'ie is far from authoritative (mu'tabar) scholars' thoughts or interpreted by jumping to conclusions, such as in solving al-Baqarah [2]: 30, al-Nisā' [4]: ​​59, and al-Mā'idah [5]: 49. The verses of the power politics clearly state that the khilāfah is an institution of civilization within state sovereignty, not a political conception that is taken for granted that negates Islam or a modern Islamic government system that substantially contains the principles of siyāsah and maqāṣid al-syāri'ah.
Tahafut al-Falasifah as a Critique of Paradigms: A Philosophical Analysis from the Perspective of Modern Science Nurhuda, Abid; Nawawi, Abdul Muid
Anjasmoro: Islamic Interdisciplinary Journal Vol. 3 No. 1 (2025): Islamic Education
Publisher : Yayasan Pendidikan Bustanul Ulum Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69965/anjasmoro.v3i1.201

Abstract

This study attempts to reread Al-Ghazali's Tahafut al-Falasifah not merely as a theological polemic text, but as a critique of scientific paradigms that has profound relevance to modern philosophy of science. Al-Ghazali's critique of rationalist claims, particularly regarding causality, the eternity of the world, and the limitations of reason, is positioned as an attempt to shake the established epistemic foundations of his time. A qualitative-comparative approach is used by analyzing the primary text of Tahafut hermeneutically, then connecting it with the thoughts of modern philosophers such as David Hume, Karl Popper, and Thomas Kuhn. The results of the study show that Al-Ghazali had already presented an epistemological awareness that aligns with the discourse of the paradigm shift in science. He emphasized that causal relationships are not absolute certainties, but rather habits that can change according to transcendental will. This perspective finds resonance in the development of contemporary science, particularly in quantum physics and the philosophy of science, which emphasize the tentative nature of knowledge. Furthermore, Al-Ghazali's paradigm critique also carries ethical implications: knowledge must always be based on moral values and spiritual awareness to avoid being trapped in scientific arrogance. Thus, Tahafut al-Falasifah can be understood as a laboratory for epistemological criticism that remains relevant for building a paradigm of modern science that is humble, reflective, and humanity-oriented. This research emphasizes the importance of integrating revelation, reason, and science in formulating a new direction for Islamic philosophy and its contribution to the global discourse on the philosophy of science.