Setiap pelantunan tembang Jawa (maca) memiliki efek, sikap, sense, dan makna tertentu, karena karya sastra seni jawa ini di dominasi oleh menejemen rasa. Efek dari pelantunannya mampu menembus dimensi akal (logos), keindahan (etos), rasa (phatos): wibawa, wirasa, wirama bagi pendengarnya. Komunikasi yang sensual tersebut merupakan jenis komunikasi semiotik metaforik, karena melahirkan efek rasa yang sangat elegan, bahkan mampu menjadikan pendengar memperoleh nuansa non verbal yang lebih mendalam dan signifikan dari pada kata-kata yang dirajut secara verbal. Prosesi pelantunan ini secara universal mampu melahirkan kedalaman makna dan rasa senada dengan ragam watak dan nuansa pesan yang beragam sesuai dengan cengkok, elok dan gregel dari masing-masing genre lagu atau tembang. Pelantunan menjadi faktor setral dalam memaknai karya sastra yang tak bisa diabaikan, sebab pelantunan merupakan gelombang energy yang memiliki nada tingi, rendah, sedang, dan tempo yang cepat, kalem dan lembut.
Copyrights © 2008