Artikel ini mengajak mencermati kedudukan orang-orang Kristen dalam Negara multikultural seperti Indonesia sebagai kelompok yang bukan hanya marginal secara geografis tetapi juga secara sosial politis. Bagaimana posisi ini dilihat dari perspektif teologis? Umumnya kelompok-kelompok marginal memiliki keutamaan-keutamaan lebih yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup mereka, seperti kerendahan hati, kesabaran, kesederhanaan, kasih, pengampunan, pelayanan, pengertian, dll. Itulah siasat hidup kaum marginal, yang berguna bukan hanya untuk memperjuangkan eksistensi kelompoknya tetapi lebih-lebih untuk meningkatkan kualitas kehidupan itu sendiri. Selanjutnya artikel merujuk kepada sejumlah referensi biblis dan teologis yang mendukung nilai-nilai ini. Yang menjadi persoalan sekarang, apakah orangorang Kristen marginal ini sungguh-sungguh mampu memberikan bumbu penyedap bagi bangunan suatu ‘kebudayaan kehidupan’? Yang jelas, tantangan teologis ini merupakan pergulatan yang tidak kunjung selesai.
Copyrights © 2004