Tema humilitas dalam etika politik terbilang baru. Sejak Machiavelli tak pernah kerendahan hati menjadi suatu elaborasi filsafat etika politik. Sebab karakter kerinduan opini penguasa atau yang bertanggung jawab atas tata hidup bersama selalu dalam bingkai jalan pikiran kesuksesan. Setiap kegagalan adalah kenaifan. Pengakuan atas kegagalan harus dijalankan dengan suatu strategi yang tidak boleh memalukan. Artikel ini menganalisis tema-tema yang sangat penting dalam lapangan filsafat etika politik: hak, kewajiban, dan kerendahan hati. Pembahasannya merujuk kepada kontribusi filosofis dan social teaching of the Church, buah refleksi Romo Ernest Fortin (seorang assumpsionist) yang mengajar filsafat dan teologi selama kurang lebih empat puluhan tahun di Assumption College dan Theological Department dari Boston College, USA. Artikel ini sedianya dimaksudkan untuk buku Gladly to Learn and Gladly to Teach: Essays on Religion and Political Philosophy in Honor of Ernest Fortin, A.A., edited by Michael P. Foley and Douglas Kries, Lexington Books, 2002. Penerbit memberikan ijin resmi untuk dipublikasikan di Studia ini. Problem humilitas dalam etika politik sangat krusial. Jika problem humilitas dipandang sepele, aktivitas politik akan mudah terjerat pada pengedepanan self-interest penguasa dan pembelakangan kepentingan umum warga.
Copyrights © 2002