Tema yang dipresentasikan penulis dalam simposium (2 – 7 Oktober 2005) di Madang, Papua New Guinea, berisikan tentang kekerasan budaya dalam era reformasi dan kebijakan Gereja Katolik di Indonesia. Kekerasan budaya menyentuh beberapa aspek budaya seperti agama, ideologi dan bahasa. Aspek budaya yang diartikan sebagai ruang simbolis hidup manusia digunakan sebagai alat untuk membenarkan dan melegitimasikan kekerasan, baik kekerasan langsung maupun kekerasan struktural. Penulis mengawali uraian ini dengan perlukisan sekilas data-data empiris tentang kerusuhan sosial di Indonesia dalam era reformasi lalu meneliti kaitan kerusuhan itu dengan kekerasan budaya. Beberapa model kekerasan budaya seperti agama, ideologi dan bahasa tampak mencuat di dalam kerusuhan-kerusuhan sosial di Indonesia. Pada bagian terakhir, penulis mengedepankan kebijakan resmi Gereja Katolik di Indonesia ketika berhadapan dengan konflik dan kerusuhan sosial itu serta menggagas pikiran penulis sehubungan dengan kebijakan itu.
Copyrights © 2007