Artikel ini mengeksplorasi wacana mesianisme melalui text Semit bertradisi Arab, dan sekaligus mengkritisi para akademisi literal dan liberal yang tak berterima tentang eksistensi Mesias Ibrani apalagi Mesias Syro-Arami. Di kalangan politisi Muslim, agamawan rumpun Ibrahimi, maupun akademisi kultural Semit, tema sentral mengenai mesianisme masih menjadi tema kontroversial. Pada era milenium ketiga ini, terutama di kalangan ‘Masyarakat Berkitab’ – mengutip istilah Dr. Muhammad Arkoen, pakar sastra Arab Mesir perdebatan politiko-teologis tema tersebut masih mengacu pada tiga ranah subtema kontroversial; (1) politisasi ideologi mesianisme yang dianggap ‘a historis’ akibat tragedi politico-social captivity, (2) misidentifikasi personal Mesias SyroArami yang sebenarnya mengakar dan pengembangan dari konsep Mesianisme Ibrani, (3) pembenaran teks sakral Islam terhadap Yeshô’ de-Meshîho sebagai Mesias Syro-Arami dalam kultur Arab melalui cara kontekstualisasi iman dan tradisi Semit liyan. Tulisan ini mencoba untuk mendekonstruksi ‘keberatan rasional akademik sekuler’ dan komunitas iman yang mengusung ‘Arabisme’ terhadap kesejatian Mesias Syro-Arami sebagai manifestasi dan pengejawantahan Mesias Ibrani, terutama dengan menggunakan pendekatan linguistik historis (filologi) dan data historis.
Copyrights © 2007