Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator “mengajukan pertanyaan” pada siklus I siswa malu dan takut mengajukan pertanyaan, berkembang menjadi bertanya dengan menuliskan di dalam buku pada siklus II, dan mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan informasi pada siklus III. Indikator “mengidentifikasi masalah” pada siklus I tidak dilakukan karena siswa belum terbiasa, berkembang menjadi memecahkan permasalahan di masyarakat, dan menambah pengetahuan dari berbagai sudut pandang pada siklus III. Indikator “menilai fakta” pada siklus I siswa belum mengetahui yang di maksud fakta, menjadi mengetahui maksud fakta dan dapat menemukan fakta pada siklus II, dan siswa dapat mengomentari fakta secara mandiri pada siklus III. Indikator “menganalisis asumsi” pada siklus I siswa tidak mengetahui tujuan menganalisis asumsi, berkembang menjadi mengerti cara menganalisis asumsi pada siklus II, dan siswa dapat menganalisis asumsi berdasarkan fakta yang ditemukan pada siklus III. Indikator “penalaran” pada siklus I siswa kesulitan melakukan penalaran, berkembang menjadi dapat memecahkan masalah pada siklus II, dan membantu menjawab pertanyaan dari orang lain pada siklus III. Indikator “mendiskusikan masalah” pada siklus I siswa malu dan takut melakukan tanya jawab, berkembang menjadi dapat berdiskusi dengan bantuan peneliti, dan merasakan manfaat berdiskusi pada siklus III. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa membaca dan menulis meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Buddha di SMP Negeri 2Sumowono.
Copyrights © 2019