Kreator konten harus mampu menghasilkan karya yang memenuhi estetika media. Sulitnya, kebijakan perusahaan kerapkali memaksa mengabaikan prinsip estetika media. Penelitian ini mencoba mendalami praktik prinsip-prinsip estetika media dalam program Woderfood di NET dengan mengandalkan pisau kualitatif dan metode studi kasus. Program ini dalam perpektif etis estetika media yang mampu memenuhi standar etis tersebut. Program Wonderfood membentuk estetika media melalui elemen sinematik utama. Elemen lain berupa visualisasi, komposisi dan pengambilan gambar, serta pergerakan. Program tersebut mengandalkan fitur estetika tingkat rendah dalam membangun mood narasi yang diceritakan. Semua informasi disusun sebagai rangkaian kejadian dengan menggunakan struktur cerita Christmas Tree. Rangakain cerita tersebut mampu membangun event intensity dan experience intensity. Ringkasnya, temuan di lapangan memperlihatkan praktik estetika media pada program Wonderfood menggunakan elemen estetika sinematik dan naratif. Nyatanya program tersebut mengabaikan estetika tingkat tinggi. Sedangkan, elemen naratif mengidahkan keragaman dan kekhasan struktur cerita. Akibat itu, satu struktur cerita digunakan untuk menceritakan situasi atau peristiwa yang beragam. Akhirnya, pengabaian ini mengakibatkan program Wonderfood tidak mampu menarik minat penonton. Hal ini dibuktikan awal tahun 2019 program ini tidak lagi disiarkan, karena perolehan rating yang tidak menggembirakan.
Copyrights © 2019