Totemisme pada masyarakat primitif merupakan gambaran kehidupan manusia menganggap suatu objek baik tumbuhan maupun hewan tertentu sakral. Mengacu pada temuan Durkheim tentang totemisme sebagai sistem agama yang paling sederhana dan primitif serta menjadi lambang organisasi sosial yakni klan oleh masyarakat tertentu. Kajian ini menunjukkan kondisi atau situasi dimana eksistensi totemisme yang melembaga di dalam diri masyarakat adat tetap terpelihara dalam perkembangan agama modern maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian ini dilakukan pada wilayah yang telah tersentuh oleh akses pembangunan, yakni di Negeri Hutumuri, Kota Ambon, Provinsi Maluku. Metode penelitian kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi dideskriftif secara sistematis. Informan dalam penelitian ini ialah para tokoh dan masyarakat setempat. Hasil temuan mengungkapkan realitas masyarakat adat setempat telah beradaptasi dengan perkembangan di era modernisasi, namun fakta sistem kepercayaan totemisme masih diberlakukan dalam praktek kehidupan sehari-hari dan ritual adat negeri. Realitas ini sebagai bentuk kepercayaan pada agama sederhana atau primitif bukan hanya terjadi pada situasi sosial di masa lampau dan kemampuan masyarakat menyesuaikan kehidupannya dengan masa sekarang tanpa meninggalkan eksistensi kesakralannya. Bentuk kondisi ini terdiri atas manusia dan hewan sakral sebagai lambang soa dan memiliki hubungan yang intim dan profan, hewan sakral dalam praktek keseharian hidup masyarakat, keterlibatan hewan sakral pada acara ritual adat, serta letak keberadaan agama samawai atau modern dan agama primitif di masyarakat menunjukkan eksistensi masyarakat adat pada 2 (dua) wilayah bentuk kepercayaan yang berbeda.
Copyrights © 2020