Dorongan untuk mengarahkan pendidikan pada upaya pembentukan karakter tentu tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang terjadi di negeri ini. Degradasi moral yang terlihat dari meningkatnya tindak kekerasan, kriminalitas, korupsi, kecabulan, dan tindakan lainnya dalamkehidupan sehari-hari sudah sangat nyata dan meresahkan. Melalui Pendidikan karakter diharapkan masyarakat kita memiliki karakter unggul.Ada dua hal yang diharapkan dapat membawa kita kepada pembangunan karakter dan peradaban, yaitu seni budaya lokal dan perdamaian. Kedua bidang ini bisa diterjemahkan dengan “budaya lokal” dan “agama”. Dalam konteks keberagamaan, ada empat perbedaan pendekatan, yaitu literal, simbolis, statis, dan dinamis. Konflik antar agama sering terjadi disebabkan oleh keempat faktor ini. Seharusnya relevan dengan asumsi dasar pluralitas, adanya saling ketergantungan hubungan di antara hal-hal yang berbeda menjadi keutamaan. Konsekuensi logisnya, pluralitas mengacu pada adanya kebersamaan yang utuh dan bersifat mengikat. Pluralitas bukan untuk pluralitas itu sendiri, tetapi meniscayakan kita – umat beragama – untuk meluaskan cakrawala berpikir dan bertindak melampaui domain dan batas-batas primordialistik menuju pemahaman yang integral-komprehensif dalam beragama.
Copyrights © 2010