Partisipasi perempuan dalam pengelolaan lingkungan hidup masih sangat terbatas, termasuk dalam rehabilitasi hutan, karma adanya anggapan balnaa permasalahan lingkungan hidup merupakan tangggungjawab laki-laki. Keterlibatan perempuan masih sebatas pada kegiatan teknis operasional dan belum sampai pada tataran strategis. sampai saat ini belum terdapat kelompok khusus perempuan yang menangani masalah rehabilitas hutan dan lahan. Rendahnya partisipasi perempuan dalam rehabilitasi lahan mengakibatkan perempuan tidak mempunyai posisi tawar dalam berhadapan dengan pihak pemerintahan dan swasta serta tidak bisa melakukan kontrol terbadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan merugikan mereka. Untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas kaum perempuan dalam rehabilitasi hutan dan lahan perlu adanya peningkatan kapasitas dan kapabilitas perempuan melalui proses belajar yang terus menerus. Selain itu juga perlu dibangun solidaritas antar perempuan agar dapat tumbuh bersama-sama menjadi kelompok yang kuat dan solid. Di samping itu juga perlu dibangun opini publik tentang persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum perempuan pinggir hutan agar suara mereka terdengar oleh pejabat pemerintah. Pentingnya membangun opini pubik merupakan salah satu komponen dari pemberdyaan perempuan. Untuk menghadapi berbagai persoalan kebijakan, ada baiknya perempuan yang tinggal di desa hutan atau di pinggir hutan diberikan pendidikan politik. Yang tak kalah penting, perempuan perlu diberdayakan secara ekonomi agar terlepas dari persoalan kemiskinan dan dapat hidup mandiri.
Copyrights © 2011