Dewasa ini, keaksaraan dipandang sebagai hal yang sangat urgent dan bahkan menjadi salah satu tolak ukur kesejahteraan suatu negara melalui penilaian Human Development Index (HDI) yang dilakukan oleh UNDP. Untuk meningkatkan SDM tersebut tentunya perlu dilakukan bukan hanya pendidikan keaksaraan yang sekedar mendidik masyarakat mampu membaca, menulis dan berhitung, tetapi juga pendidikan keaksaraan untuk pengembangan kemampuan individu agar mampu mengatasi persoalan kehidupan. Perbedaan adat istiadat serta kebudayaan seringkali menjadi jurang pemisah antara pendidikan dan masyarakat. Perbedaan tingkat kesejahteraan serta kebiasaan leluhur setempat menjadi tantangan tersendiri dalam menurunkan angka buta aksara melalui pendidikan. Kondisi seperti itu seringkali dijumpai pada masyarakat adat terpencil. Adapun yang menjadi sasaran di wilayah tersebut ialah 20 orang perempuan usia produktif dengan rentang usia 15-59 tahun. Pendekatan yang digunakan ialah kualitatif dengan menggunakan pedoman wawancara, lembar observasi serta dokumentasi sebagai instrumen pengumpul datanya. Dalam menganalisis data, digunakan teknik reduksi, display serta penarikan kesimpulan. Berdasarkan pada hasil pengamatan serta analisis data di lapangan, diperoleh hasil bahwa: fl ash card bersifat efektif mengenalkan warga belajar pada huruf dan angka; Warga belajar juga mampu mengenal dengan cepat nama dari alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat olahan nugget ikan maupun pembuatan bros. Adapun kelemahannya ialah tutor tidak menguasai dengan fasih bahasa Dayak Siang yang dijadikan bahasa ibu oleh warga desa Bahitom, sehingga perlu penerjemah pada beberapa konteks kalimat. Hal tersebut cukup menyita efesisensi waktu pembelajaran.
Copyrights © 2017