SITEKIN: Jurnal Sains, Teknologi dan Industri
Vol 12, No 1 (2014): Desember 2014

MODEL PROPAGASI UNTUK KANAL RADIO BERGERAK PADA FREKUENSI 900 MHz DI KOTA PEKANBARU

Teddy Purnamirza (Jurusan Teknik Elektro Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
Yuhrijul Yuhrijul (Jurusan Teknik Elektro Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
Depriwana Rahmi (Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)



Article Info

Publish Date
28 Jan 2015

Abstract

Dalam suatu sistem telekomunikasi, model propagasi radio sangat dibutuhkan untuk melakukan suatu perancangan, pembangunan dan pengembangan sistem komunikasi bergerak. Model propagasi yang umum digunakan diantaranya adalah model Okumura-Hatta, model Cost 231 dan model Lee. Namun, model-model tersebut tidak dapat digunakan untuk menentukan model propagasi yang akurat pada suatu daerah tertentu, karena model-model tersebut bersifat umum. Penelitian ini bertujuan mendapatkan model propagasi untuk kanal radio bergerak pada frekuensi 900 MHz di kota Pekanbaru. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran daya terima menggunakan Tems Investigation pada kawasan yang telah di tetapkan. Selanjutnya dilakukan pengukuran jarak antara MS dan BTS untuk mendapatkan data loss dan jarak yang bersesuaian. Model propagasi didapatkan berdasarkan data loss dan jarak yang bersesuaian menggunakan Software Matlab. Pada penelitian ini didapatkan Model Linier: L= 30 x D + 126, Model Kuadratik: L= 35,7 x D2 +3,53x D + 129, dan Model Kubik: L= -285 x D3 + 360 x D2 – 98,1 x D + 137. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan model propagasi yang paling mendekati hasil pengukuran adalah model propagasi Hatta Dense Urban.

Copyrights © 2014






Journal Info

Abbrev

sitekin

Publisher

Subject

Control & Systems Engineering Decision Sciences, Operations Research & Management Economics, Econometrics & Finance Industrial & Manufacturing Engineering Other

Description

Sesuai dengan standard ISO 45001 bahwa karyawan harus berpartisipasi dalam melakukan pencegahan kecelakaan. Untuk itu perusahaan telah menetapkan Program Hazob (Hazard Observation) untuk mengidentifikasi bahaya dan melakukan tindakan koreksinya. Penerapan Program Hazob masih dengan metode ...