Kisah Nabi Sulaiman yang merupakan objek material dari penelitian ini merupakan salah satu kisah nabi yang dimuat dalam Alquran dengan kuantitas yang cukup, karena terdiri dari 50 ayat dan tersebar dalam 5 surat yang berbeda, yaitu surat al-Baqarah, al-Anbiya’, an-Naml, Sad, dan Saba’. Secara stilistika ditemukan berbagai fenomena kebahasaan yang khas dalam penelitian ini. Baik dalam ranah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan retoris. Dalam bidang fonologi, misalnya pada surat al-Baqarah ayat 102 ditemukan keserasian bunyi pada akhir ayat dengan ayat sebelum dan setelahnya. Efek fonologi dari ayat tersebut ialah menyerasikan ayat sebelum dan lima ayat tersebut bunyi vokal panjang pada akhir ayat berbunyi “in”. Pada pertengahan ayat terdapat satu-satunya bunyi “un”. Keempat bunyi “in” menjelaskan tentang kekuasaan Allah yang diberikan kepada Nabi Sulaiman. Dalam ranah morfologi ditemukan sebuah kata yaitu kata Gasa –Yagisu yang berarti menyelam. Kata menyelam menggunakan dua bentuk kata yaitu yagusuna dan gowwas. Kedua kata tersebut berasal dari satu akar yang sama yaitu gasa-yagisu. Gowwas berarti menyelam untuk mencari mutiara, yagusuna berarti penyelam. Selain itu ditemukan kata Syakara-yaskuru Syukur. Terdapat 5 kali perubahan; syakirun pada surat al-Anbiya ayat 80, asykura pada surat an-Naml ayat 19, syakara pada surat an-naml 40, syukran dan syakur pada surat Saba 14. Maka dari itu, terdapat empat tingkatan syukur secara morfologi ; syakara, yasykuru, syakirun, syakur. Adapun gaya retoris dan kiasan pada kisah Nabi Sulaiman ditemukan tujuh gaya bahasa ialah ta’kid al-mukarrar (pengulangan), tibaq (lawan kata), jinas (kemiripan kata atau kalimat), tasybih (perumpamaan), isti’aroh (kalima perumpamaan yang dibuang objeknya), ijaz (meringkas kalimat). Gaya bahasa tersebut merupakan salah satu gaya bahasa yang digunakan dalam Alquran yang sudah turun dari 1400 tahun yang lalu, namun terbyata masih diakui dan bahkan baru ditemukan oleh para ilmuan pada zaman sekarang ini. Melalui hal tersebut, menunjukkan bahwa Alquran merupakan kitab yang tidak akan pernah habis masanya dan akan terus teraktual selama peneliti masih tertarik untuk meneliti Alquran secara lebih detail dari berbagai aspek keilmuan.
Copyrights © 2020