Masyarakat Indonesia
Vol 43, No 2 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia

KELANJUTAN TRADISI LISAN MADDOJA BINE DALAM KONTEKS PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT BUGIS

Andi Sulkarnaen (Lembaga Sensor Film)



Article Info

Publish Date
03 Dec 2018

Abstract

This research examines the continuation of maddoja bine tradition in the context of Bugis society social change. Literally maddoja means staying up or waking, not sleeping; Bine means seed. Farmers who carry out maddoja bine will be waking at night watching the seeds of the rice, before sowing in the field on the next day. To fill the waking time massureq is held. It is the recital of Sureq La Galigo in song. Maddoja bine is one of La Galigo's traditions which is performed as a tribute to Sangiang Serri (goddess of rice). It is told in the epic / myth of La Galigo that Sangiang Serri is the daughter of Batara Guru.In the beginning, the implementation of maddoja bine was part of communal ritual in one wanua (kampung), when the customary institutions still remained and functioned. The social changes of Bugis society affect the implementation of maddoja bine tradition. This research finds four ways of the implementation of maddoja bine among Bugis farmers: 1) conducted individually accompanied by massureq, 2) carried out individually by incorporating elements of Islamic religion (barzanji) and without accompanying the reading of Sureq La Galigo, 3) carried out individually without accompanying the reading of Sureq La Galigo, 4) executed collectively or in communal accompanied by the recital of Sureq La Galigo.The emergence of four ways of implementing maddoja bine is inseparable from the socio-cultural context of the community in which the tradition is carried out. The sustainability of the tradition is influenced by external and internal elements (inheritance systems). The survival of the tradition is a reflection of the meaningfulness of cultural practice for its supporting community.Keywords: Bugis, tradition sustainability, maddoja bine, social change ABSTRAKTulisan ini membahas kelanjutan tradisi maddoja bine dalam konteks perubahan sosial masyarakat Bugis. Secara harfiah maddoja berarti 'begadang atau berjaga, tidak tidur'; bine berarti 'benih.' Petani yang melaksanakan maddoja bine akan berjaga di malam hari menunggui benih padi yang diperam, sebelum ditabur di persemaian keesokan harinya. Untuk mengisi waktu berjaga-jaga tersebut, diadakan massureq, yaitu pembacaan Sureq La Galigo dengan berlagu (resitasi). Maddoja bine merupakan salah satu tradisi La Galigo yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada Sangiang Serri (dewi padi). Dalam epos/mitos La Galigo diceritakan bahwa  Sangiang Serri merupakan puteri Batara Guru. Pada mulanya pelaksanaan maddoja bine merupakan bagian dari ritual komunal dalam satu wanua (kampung). Pada saat itu pranata adat masih ada dan berfungsi. Perubahan sosial masyarakat Bugis berpengaruh terhadap pelaksanaan tradisi maddoja bine. Dari penelitian ini, didapatkan empat cara pelaksanaan maddoja bine di kalangan petani Bugis, yaitu; 1) dilaksanakan secara perorangan disertai dengan massureq, 2) dilaksanakan secara perorangan dengan memasukkan unsur agama Islam (barzanji) dan tanpa disertai dengan pembacaan Sureq La Galigo, 3) dilaksanakan secara perorangan tanpa disertai dengan pembacaan Sureq La Galigo, 4) dilaksanakan secara kolektif atau komunal dengan disertai pembacaan Sureq La Galigo. Munculnya empat cara pelaksanaan maddoja bine ini tidak terlepas dari konteks sosial budaya masyarakat tempat dilaksanakannya tradisi tersebut. Keberlanjutan tradisi dipengaruhi oleh elemen-elemen eksternal dan internal (sistem pewarisan). Kebertahanan tradisi merupakan cerminan kebermaknaan dari praktik budaya bagi komunitas pendukungnya.Kata kunci: Bugis, kelanjutan tradisi, maddoja bine, perubahan sosial

Copyrights © 2017






Journal Info

Abbrev

jmiipsk

Publisher

Subject

Religion Humanities Languange, Linguistic, Communication & Media Law, Crime, Criminology & Criminal Justice Social Sciences

Description

Artikel yang dimuat dalam Jurnal Masyarakat Indonesia dapat berbasis hasil penelitian maupun pemikiran, dengan fokus bahasan yang berkaitan dengan perihal masyarakat Indonesia. Tiap terbitan memiliki tema yang berbeda-beda dan dapat ditelaah dari berbagai disiplin ilmu berdasar sudut pandang ...