Konstruksi femininitas menunjukan perubahan sosial, dan dapat dilihat dari konstruksi perempuan anak revolusi pada masa Orla; ibuisme pada masa Orba; namun pada masa Orde Reformasi, seakan terjadi situasi paradoks dimana, perempuan kembali perlu berjuang untuk representasinya. Ekspresi femininitas di ruang publik merupakan gambaran dari pandangan yang beredar di masyarakat tentang perempuan. Dalam hal ini ruang publik yang muncul adalah ruang publik di media sosial seperti di WA, dan lainnya. Konstruksi sosial menunjukan kesenjangan antara masalah perempuan yang diangkat oleh gerakan perempuan dengan tumbuhnya konstruksi yang tidak melihat adanya masalah perempuan. Peran individu ataupun institusi yang melakukan konstruksi sosial saat ini, berada di ruang publik virtual, yang membuat upaya upaya meningkatkan peran perempuan menjadi gamang. Di dalam proses ini konstruksi heteronormativitas menguat yang membuat peran peran perempuan terdorong kembali ke ruang domestik dan menghasilkan gambaran ambigu tentang peran perempuan di ruang publik, termasuk di ruang publik virtual.
Copyrights © 2018