Indonesia sebagai negara agraris mempunyai potensi untuk bersaing pada pasar pertanian di pasar internasional, sejalan dengan adanya Pasar Bebas ASEAN/ ASEAN Free Trade Area (AFTA). Kabupaten Ngawi termasuk daerah yang subur dan merupakan salah satu daerah penyangga sektor pertanian di Jawa Timur. Komoditas hortikultura merupakan salah satu sumber utama pada di sektor pertanian, karena mempunyai potensi yang tinggi dan bisa menyumbang pada perekonomian suatu daerah. Komoditas hortikultura yang berupa buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan salah sumber pangan penting untuk memenuhi kebutuhan gizi dari masyarakat. Pertanian dengan fokus pada tanaman hortikultura di Kabupaten Ngawi dikembangkan dengan sistem cluster berdasarkan tingkat kemajuan, luas panenan serta dengan mempertimbangkan agroklimat untuk memetakan komoditas hortikultura unggulan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah memetakan kondisi pertanian hortikultura serta menganalisis permasalahan pada kluster tanaman hortikultura di Kabupaten Ngawi. Metode penelitian adalah mixed method yaitu penggabungan antara kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan analisis Location Quotient, Geographic Information System (GIS), dan Analysis Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian ini adalah Potensi pengembangan kluster hortikultura di Kabupaten Ngawi diperlukan upaya penataan dan pengembangan lokasi komoditas basis sesuai dengan kondisi agroekosistem. Pengembangan komoditas yang ada ada pada titik-titik basis tersebut akan menjadikan komoditas tersebut menjadi unggulan dan penunjang terciptanya sentra kluster holtikultura serta pengembangan agribisnis yang ada di suatu daerah. Pengembangan komoditas basis hortikultura untuk sayuran semusim dan buah-buahan bisa disesuaikan dengan hasil LQ untuk masing-masing kecamatan di Kabupaten Ngawi. Hasil Indepth interview yang diolah dengan menggunakan AHP memperoleh hasil bahwa ternyata terdapat tiga faktor utama dalam pengembangan kluster yaitu produksi yang terdiri atas empat faktor turunan yaitu riset dan pengembangan, bibit unggul, pupuk dan obat anti hama kemudian pemasaran dengan faktor turunannya yaitu standarisasi produk, packaging, pasar tradisional dan pasar modern. Kemudian faktor yang ketiga kelembagaan yang terdiri atas pelatihan, pengembangan jejaring, dukungan pemerintah dan pendampingan.
Copyrights © 2018