Desa Walen terletak di Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah, mempunyai ciri fisik sebagai kawasan industri rumah tangga kerajinan bambu. Kegiatan industri dimulai pada tahun 1930-1940, kawasan memiliki kesesuaian yang baik terhadap keberlangsungan kegiatan tetapi tidak dibarengi dengan RDTR yang tepat, dapat dikatakan demikian karena tidak adanya peruntukan bagi ruang dan infrastruktur sebagai penunjang potensi kegiatan kerajinan. Permasalahan diselesaikan melalui integrasi antara potensi kekayaan alam berupa kebun bambu, dengan kegiatan kerajinan dalam lingkup desain kawasan dengan infrastruktur penunjang kegiatan kerajinan. Kriteria perencanaan dan perancangan kawasan didapat melalui penerapan cultural landscape yang disesuaikan dengan lokasi, penerapan ini meliputi penataan kawasan memadukan potensi industri dan kultur kawasan. Metode penelitian dilakukan dengan studi literatur teori cultural landscape dan cakupan konsep desainnya, observasi lapangan melalui pemetaan, pengukuran site dan jarak antar site di dalam kawasan, dan wawancara terhadap pengerajin bambu, dan pemerintah terkait alur dan kegiatan produksi kerajinan bambu. Hasil strategi penerapan cultural landscape diharapkan menjadi suatu temuan untuk menyelesaikan permasalahan kawasan pada aspek perancangan arsitektural, dengan menerapkan ketiga konsep desain cultural landscape yaitu konsep konteks pada pembentukan sistem kawasan, konsep organisasi pada pembentukan sirkulasi di dalam kawasan, dan elemen dengan tiga penerapan pada desain bangunan yaitu penerapan karakter arsitektural kawasan, makna simbolis siteplan terhadap desain, teknik konstruksi dengan kesesuaian fungsi. Keywords: cultural landscape, kawasan industri rumah tangga, kerajinan bambu.
Copyrights © 2019