Tulisan ini menelaah tentang manajemen dakwah yang dilakukan oleh MajlisTafsir Al-Qur`an Pusat di Surakarta. Dengan menggunakan pendekatan sosioantropologis,kajian ini menghasilkan temuan bahwa MTA telah melakukan proses danprosedur manajerial dalam melaksanakan kegiatan dakwah. Meski tidak tertulis secaraterencana, tetapi, praktik-praktik yang dilakukan mengindikasikan hal itu. Berikutnya,letak keberhasilan dakwah MTA justru pada pola asuh jamaah pasca perekrutan anggotadan pengukuhan cabang-cabangnya. Pimpinan MTA tergolong sumber daya manusiayang tekun, terampil, istiqamah, dan bertanggungjawab atas tindakan dakwahnya,sehingga kader-kader atau jamaah menjadi militant oleh karena pendampingan danpembinaan yang jelas, rinci dan berkelanjutan. Penting bagi organisasi sejenis, bahwapenerapan prinsip-prinsip manajemen dakwah yang dilakukan MTA menjadi contohmodel di dalam melakukan pemberdayaan masyarakat muslim di Indonesia. PREACHING MANAGEMENT IN MAJELIS TAFSIR AL QUR'ANThis paper examines the management of da'wah carried out by the Qur'anicInterpretation Center in Surakarta. Using a socio-anthropological approach, this studyproduced findings that MTA had carried out managerial processes and procedures incarrying out da'wah activities. Although not written in a planned manner, however, thepractices carried out indicate that. Next, the success points of MTA preaching areprecisely on the parenting style of the congregation after the recruitment of members andthe inauguration of its branches. MTA leaders are classified as human resources who arediligent, skilled, istiqamah, and responsible for their da'wah actions, so that cadresbecome militants because of clear, detailed and continuous mentoring and guidance. It isimportant for similar organizations, that the application of da'wah management principlescarried out by MTA is an example of a model in empowering Muslim communities inIndonesia.
Copyrights © 2017