Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah masyarakat bahasa yang memiliki ratusan bahasa daerah yang unik. Intensitas penggunaan bahasa daerah di NTT masih cukup tinggi, hal ini merupakan salah satu cara mencegah kepunahan bahasa daerah di tengah gempuran bahasa pendatang dan bahasa asing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemertahanan bahasa Tetun di Desa Manusak dengan mendeskripsikan penggunaan bahasa Tetun (BT) dalam guyub tutur masyarakat bekas pengungsi Timor-Timr di desa Manusak, serta mengetahui faktor-faktor penyebab pemertahanan bahasa Tetun (BT) di desa Manusak. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan sosiolinguistik dengan menarapkan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah 132 warga masyarakat bekas pengungsi yang menetap di Desa Manusak Kebupaten Kupang, selanjutnya data pada penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara dan hasil observasi. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif melalui tiga tahapan, yaitu klasifikasi data, interpretasi data, dan analisis deskriptif yang disajikan dalam bentuk narasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa BT masih sangat bertahan meski bahasa tersebut telah bermigrasi selama 20 tahun dari tanah asalnya yaitu tanah Timor Lorosae dan menetap di Desa Manusak, kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. Dari 132 informan yang diwawancarai, menunjukkan sebanyak 114 informan atau sekitar 86,36% informan menggunakan BT sebagai bahasa sehari-hari dengan kategori usia yang berbeda-beda. Selanjutnya terdapat empat faktor pemertahan BT yaitu (1) faktor loyalitas terhadap bahasa ibu, (2) faktor kebanggaan terhadap BT, (3) faktor lingkungan keluarga, dan (4) faktor migrasi dan konsentrasi wilayah.
Copyrights © 2020