Bahasa telah menjadi alat bantu yang berperan penting dalam kehidupan, tidak hanya bagi manusia, tapi bahkan bagi seluruh makhluk hidup. Bahasa menjadi jembatan komunikasi antara manusia guna menyampaikan keinginan, pikiran, emosi dan lain-lainnya. Bagi agama, bahasa menjadi sarana penting bagi dakwah, dan secara komunal, bahasa telah menjadi ekspresi budaya bagi menegaskan eksistensi kesukuan, dan secara nasional menjadi alat bagi pemersatu bangsa yang memiliki keragaman suku seperti halnya Indonesia.Namun ternyata tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa yang seharusnya menjadi penegas identitas kesukuan tersebut malah menjadi media ashabiyah yang dibingkai oleh arogansi dan dominasi kesukuan jika pribadi-pribadi penuturnya tidak memiliki kepekaaan sosial dan semangat nasionalisme. Tidak jarang ditemukan person-person yang masih tetap menggunakan bahasa daerah masing-masing jika berdialog di tempat-tempat umum yang tentunya hanya dipahami oleh sesama suku saja. Meskipun hal itu dengan maksud yang baik dalam rangka merekatkan kembali emosi kesukuan, namun bagi suku lain yang ikut mendengar dan tidak paham maka bisa jadi memicu ketersinggungan dan kesalahpahaman.Pada sisi lain, upaya menjaga eksistensi bahasa lokal (daerah) yang sarat dengan kearifan lokal tetap penting dipertahankan seiring dengan upaya menumbuhkan kearifan lokal dalam rangka menjaga dan melestarikan kebudayaan nasional. Pada sisi yang lain pula, bahasa indonesia tetap dibutuhkan guna menjadi kohesi sosial di tengah kebudayaan yang heterogen di Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya serius untuk tetap menjaga eksistensi keduanya tanpa harus membangun sekat-sekat sosial baru yang memicu disintegrasi bangsa.
Copyrights © 2020