Sari Pediatri
Vol 22, No 6 (2021)

Hubungan Jaringan Parut Bacillus Calmette-Guerin dengan Kejadian Tuberkulosis Ekstraparu pada Anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Kiara tahun 2015-2017

Angela Kimberly Tjahjadi (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia)
Nastiti Kaswandani (Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta)



Article Info

Publish Date
28 Apr 2021

Abstract

Latar belakang. Meskipun vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) telah menjadi program vaksinasi wajib di Indonesia, tuberkulosis (TB) pada anak tetap prevalen. Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi jaringan parut BCG dan hubungannya dengan kejadian TB ekstraparu (TB-EP) pada anak.Metode. Pengambilan data dilakukan di Rumah Sakit Cipto-Mangunkusumo Kiara dengan metode potong-lintang pada populasi anak terdiagnosis TB berdasarkan kriteria WHO dan konsensus IDAI.Hasil. Dari 246 pasien anak jangkauan usia 2 bulan -18 tahun terdiagnosis TB, 127 (51,6%) anak mengalami TB-EP dengan prevalensi TB tulang, KGB dan abdomen secara berurutan 13%, 10,9%, dan 6,6%. Mayoritas pasien TB EP adalah laki-laki (55,2%) dan berada dalam kelompok usia 6-14 tahun (60%). Riwayat kontak dengan kasus TB-EP ditemukan pada 49 kasus (51,5%). Penyakit komorbid penyerta dengan mayoritas keganasan (25,6%) dan infeksi HIV (23,1%) ditemukan pada 21 kasus TB-EP (35%). Status jaringan parut BCG positif ditemukan pada 140 kasus (56,9%). Dari 106 anak tanpa jaringan parut BCG, 38 (35,8%) anak memiliki TB paru dan 68 (64,2%) memiliki TB-EP. Tidak adanya jaringan parut BCG memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian TB-EP pada anak (p<0,01) dengan OR: 2,457 (IK95%: 1,46 - 4,131).Kesimpulan. Kejadian TB- EP anak yang tinggi pada proporsi tanpa jaringan parut BCG berhubungan signifikan secara statistik.

Copyrights © 2021