Sistem Kekuatan Pertahanan Negara Indonesia memadukan antara kekuatan pertahanan militer dan nirmiliter dengan Lembaga/Non Lembaga sebagai Komponen Utama dalam menghadapi ancaman pertahanan nirmiliter (Kementerian Pertahanan, 2008). Bencana non alam dalam penelitian ini adalah penanganan keamanan hayati produk rekayasa genetik yang di dunia menjadi ancaman nirmiliter berbasis teknologi modern (Karmana, 2009). Indonesia meratifikasi protokol Cartagena dan membentuk lembaga non struktural yaitu Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (KKH PRG) dalam keamanan hayati (pangan, pakan, dan lingkungan). Kinerja KKH PRG tentang penanganan dan kajian risiko PRG sebelum terjadi bencana nonalam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh positif kompetensi dan kerjasama tim secara parsial dan simultan terhadap kinerja Lembaga KKH PRG dalam keamanan hayati Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel proportionate stratified random sampling, maka jumlah sampel diambil secara acak dari beberapa instansi. Sampel sebanyak 44 Orang sebagai anggota KKH PRG dengan menggunakan rumus solvin. Teknik analisis data dengan regresi linear berganda diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kompetensi (p= 0,004) dan kerjasama tim (p=0,000) berpengaruh positif terhadap kinerja lembaga KKH PRG secara simultan dan parsial. Kompetensi berpengaruh positif sebesar 8,6% dan kerjasama tim sebesar 13,5 % terhadap kinerja lembaga KKH PRG dengan nilai dominan yaitu kerjasama tim, serta untuk kedua variabel secara simultan diperoleh nilai sebesar 41%, sisanya 59% dipengaruhi oleh variabel lain. Saran agar dilakukan perbaikan kompetensi melalui pelatihan dan pengembangan anggota serta tidak ada yang merangkap tugas, sehingga tugas menjadi fokus utama dalam menangani kajian risiko keamanan hayati produk rekayasa genetik di lembaga KKH PRG. Kata Kunci: Kinerja Lembaga KKH PRG, Produk Rekayasa Genetik (PRG), Kompetensi, Kerjasama Tim, Keamanan Hayati
Copyrights © 2018