Salah satu tradisi awal masyarakat Kerinci sebelum adanya aksara adalah tradisi lisan, tidak sekedar sebagai alat berkomunikasi, namun lebih dari itu ia menjadi memori alat penyimpan perjalanan sejarah masa lampau berabad abad lalu. Ada berbagai bentuk tradisi lisan masyarakat Kerinci diantaranya, asyeik, tale, rangguk, mantau, dan lain lainnya. Seiring pergeseran zaman tradisi lisan ini semakin ditinggalkan. Dalam tulisan ini kita akan mencoba menjawab beberapa permasalahan. Bagaimanakah tradisi lisan dapat menyumbang pelestarian dan perlindungan benda Cagar Budaya, hubungan tradisi lisan masyarakat Keri-nci dengan tinggalan arkeologi yang terdapat di sana, dan bentuk pewarisan dan pengelolaan tradisi lisan ini. Pada tulisan ini mencoba membuktikan bahwa tradisi lisan menyimpan banyak informasi sejarah perjalanan masyarakat Kerinci dengan tinggalan arkeologinya. Dengan memakai metode observasi, pendokumentasian, pengamatan lansfung dalam kurun waktu di tentukan untuk melihat hasil setelah penelitian, dan studi pustaka. Hasil yang di dapat dengan fakta di lapangan saat ini, tradisi lisan masih memegang peranan penting da-lam memperkuat akan memori, pemikiran, dan mengembalikan nilai-nilai luhur masyarakat Kerinci serta sangat penting dalam kontribusi proses pelestarian dan perlindungan tinggalan Cagar Budaya di Kerinci.
Copyrights © 2020