Tujuan penulisan sebuah karya historis, termasuk Sejarah Gereja, tak bisa dilepaskan dari penulisnya. Harapan, kegelisahan dan perjuangan penulis menjadi unsur yang turut menentukan pemilihan dokumen dan alur sejarah yang ia kemukakan. Rufinus dan Theodoretus memiliki kepentingan yang berbeda Dalam melaporkan peristiwa, baik mengenai relasi Gereja dan kekaisaran, maupun peristiwa internal Gereja. Rufinus menempatkan semua aktivitas misioner Gereja Katolik pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinus dan bukan pada periode kekaisaran Konstansus. Dengan itu Rufinus mau menyatakan bahwa aktivitas misioner ini dapat terjadi karena kehendak yang Ilahi pada masa pemerintahan seorang kaisar yang ideal, seorang princeps religiosus. Theodoretus, uskup Cyrrus, hidup dalam periode kala sejumlah guncangan tengah menimpa baik Gereja maupun Kekaisaran Romawi. Sebagai pembela setia iman ortodoks, Theodoretus berhadapan dengan sejumlah aliran heritik dan kekafiran yang mengancam kedamaian dalam Gereja. Untuk itu, Theodoretus sangat menekankan pentingnya koalisi antara pemimpin Gereja dengan kaisar penganut ajaran iman ortodoks. Kerja sama itulah yang melahirkan damai baik dalam Gereja maupun Kekaisaran. Serangan terhadap kekafirkan, khususnya aliran heretik, dan penekanan peranan para rahib menjadi unsur dominan dalam Sejarah Gereja yang ditulis oleh Theodoretus. Untuk mencapai maksudnya, Thedoretus tak sungkan-sungkan memodifikasi alur sejarah.
Copyrights © 2013