Orang Bugis yang terkenal gemar berpetualang dapat dijumpai di berbagai wilayah di Nusantara. Salah satu wilayah yang banyak dihuni oleh migran Bugis adalah Gorontalo. Karena itu, tulisan ini diketengahkan untuk mengkaji adaptasi kultural migran Bugis dengan masyarakat Gorontalo sebagai sebuah hasil penelitian kualitatif, melalui pengamatan, kajian dokumen, dan wawancara. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa keberadaan migran Bugis di Gorontalo dimulai sejak tahun 1666 M, yang berkonsentrasi di Kampung Bugis, sebagai hadiah yang diberikan kepada mereka, atas bantuannya dalam mengusir bajak laut yang selalu merugikan penguasa Gorontalo. Migran Bugis yang mendiamitepi sungai Bone Bolango yang dikenal Kampung Bugis, sampai kini masih dapat dijumpai dengan identitas nama belakang (fam) yang berawalan “La”. Seperti La Madilau. Mereka telah beradaptasi dengan orang asli Gorontalo melalui proses kawin-mawin yang terjalin karena persamaan agama, dan membuat mereka melebur dalam budaya dan bahasa Gorontalo. Sebuah peleburan yang kental dengan tidak adanya keturunan migran Bugis itu yang bisa berbahasa Bugis meskipun mereka masih tetap mengakui nenek moyangnya berasal dari Bugis. Selain itu, terdapat juga migran Bugis yang tergabung dalam (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang dikenal dengan orang Selatan. Mereka masih bisa berbahasa Bugis dan mengenal baik daerah asal dan keluarganya dari daerah Bugis. Mereka tersebar pada wilayah-wilayah kecamatan di Gorontalo dan berbaur dengan modal kedermawanan dengan prakarsa pembangunan yang diperuntukkan untuk semua kalangan masyarakat tanpa membedakan asalusul suku dan perbedaan bahasa.
Copyrights © 2021