Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang bertujuan selain menguraikan awal mula tradisi mappalesso samaja, juga untuk mengungkap nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif menggunakan teknik pengumpulan data berupa pengamatan,wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa awal mula dilaksanakannya tradisi mappalesso samaja adalah karena adanya nazar atau “Samaja” yang pernah diucapkan oleh Datu Luwu Andi Djemma di hadapan para dewan adatnya dan para pemuda pejuang Luwu saat menghadapimomen kritis ketika memimpin perang gerilya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada saat itu, Datu Luwu bernazar, bahwa kelak apabila perjuangan rakyat Luwu dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia berhasil mencapai tujuan dan cita-cita proklamasi kemerdekaan.Oleh karena itu, sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah SWT, beliau akan melaksanakan acara adat “Manre saperra” atau “Santap bersama” bersama seluruh lapisan masyarakat Luwu. Pelaksanaan tradisi mappalesso samaja secara garis besar terdiri atas tiga tahap, yakni: mallekke wae, maddoja-roja, danmanre saperra. Ada beberapa nilai budaya yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi mappalesso samaja, yakni nilai kegotongroyongan, nilai religi, nlai musyawarah, nilai sosialisasi, nilai kepatuhan,nilai solidaritas, nilai estetika/keindahan, dan nilai hiburan.
Copyrights © 2021