Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 meninggalkan banyak warisan yang terwujud dalam solidaritas Asia Afrika. Salah satu bentuk dari solidaritas tersebut ialah pelaksanaan Konferensi Wartawan Asia Afrika (KWAA) pada 1963 yang menunjukkan solidaritas jurnalis dalam dua kawasan untuk memperkuat semangat dekolonisasi demi melawan kolonialisme dan imperialisme. Penyelenggaraan KWAA meninggalkan banyak kesan yang menarik, salah satunya adalah keterlibatan delegasi perempuan. Sayangnya, kehadiran delegasi perempuan dalam KWAA belum banyak mendapat perhatian dari para akademisi. Oleh karena itu, kajian ini membahas delegasi perempuan dalam KWAA dan suara mereka mengenai gagasan semangat dekolonisasi. Kajian ini bertujuan untuk menghadirkan peran perempuan dalam penulisan sejarah diplomasi pascakolonial di Asia Afrika, sehingga penulisan sejarah diplomasi menjadi lebih androgynous. Kajian ini dilakukan dengan metode sejarah, yang hasilnya menunjukkan bahwa beberapa delegasi perempuan yang hadir dalam KWAA adalah “buronan” negara-negara kolonial. Melalui KWAA, mereka menyuarakan pentingnya peran jurnalis dalam mendukung dekolonisasi untuk menghapuskan kolonialisme dan imperialisme di Asia dan Afrika.
Copyrights © 2021