Ayu Wulandari
Departemen Sejarah, Universitas Gadjah Mada

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MEMBAYANGKAN BANDUNG DALAM SATU DASAWARSA PASCA-KONFERENSI ASIA AFRIKA: KONEKTIVITAS GLOBAL, MODERNITAS, DAN PERUBAHAN SOSIAL (1955-1965) Ayu Wulandari
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v7i2.273

Abstract

Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955 di Bandung memiliki dampak yang sangat luas. Bagi Indonesia, KAA memberikan warisan posisi yang terhormat dalam diplomasi pascakolonial, khususnya di Asia dan Afrika atau “Dunia Ketiga”. Namun demikian, dampak konferensi ini tidak hanya dirasakan oleh Indonesia secara umum. Konferensi ini juga mengubah citra Bandung yang merupakan kota penyelenggaraan konferensi. Oleh karena itu, kajian ini membahas kondisi Kota Bandung dan masyarakatnya pasca-KAA. Kajian ini disusun menggunakan metode sejarah yang memanfaatkan arsip, majalah, dan surat kabar sebagai sumber primer. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pasca-KAA, Bandung bertransformasi menjadi “Kota Konferensi Internasional”, diikuti oleh pembangunan dan terbentuknya citra Bandung sebagai kota politik global sehingga kota ini juga menjadi ruang terkoneksinya aktor politik global. Ironisnya, prestasi dan modernitas ini justru diikuti oleh perubahan sosial yang menunjukkan sisi lain Kota Bandung. Berbagai masalah sosial dan ekonomi meluas di kota ini mulai dari kemiskinan hingga degradasi moral.
MENELUSURI WARISAN BANDUNG: DELEGASI PEREMPUAN DAN SEMANGAT DEKOLONISASI DALAM KONFERENSI WARTAWAN ASIA AFRIKA 1963 Ayu Wulandari
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v7i1.230

Abstract

Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 meninggalkan banyak warisan yang terwujud dalam solidaritas Asia Afrika. Salah satu bentuk dari solidaritas tersebut ialah pelaksanaan Konferensi Wartawan Asia Afrika (KWAA) pada 1963 yang menunjukkan solidaritas jurnalis dalam dua kawasan untuk memperkuat semangat dekolonisasi demi melawan kolonialisme dan imperialisme. Penyelenggaraan KWAA meninggalkan banyak kesan yang menarik, salah satunya adalah keterlibatan delegasi perempuan. Sayangnya, kehadiran delegasi perempuan dalam KWAA belum banyak mendapat perhatian dari para akademisi. Oleh karena itu, kajian ini membahas delegasi perempuan dalam KWAA dan suara mereka mengenai gagasan semangat dekolonisasi. Kajian ini bertujuan untuk menghadirkan peran perempuan dalam penulisan sejarah diplomasi pascakolonial di Asia Afrika, sehingga penulisan sejarah diplomasi menjadi lebih androgynous. Kajian ini dilakukan dengan metode sejarah, yang hasilnya menunjukkan bahwa beberapa delegasi perempuan yang hadir dalam KWAA adalah “buronan” negara-negara kolonial. Melalui KWAA, mereka menyuarakan pentingnya peran jurnalis dalam mendukung dekolonisasi untuk menghapuskan kolonialisme dan imperialisme di Asia dan Afrika.
MENJADI ISTRI DIPLOMAT: HURUSTIATI SOEBANDRIO DALAM MEMBENTUK CITRA INDONESIA DI INGGRIS 1947-1954 Ayu Wulandari
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 5, No. 1, December 2021
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33652/handep.v5i1.150

Abstract

In the history of Indonesian diplomacy, there have been several outstanding diplomat figures who have made achievements, such as Soebandrio. Then, it is important to realize that the success of Soebandrio in connecting Indonesia with the world when he was in London and Moscow; and his role in various significant state missions cannot be apart from his wife’s role, Hurustiati Soebandrio. During Soebandrio’s career, Hurustiati’s diplomatic role began when her husband became the Indonesian Ambassador in London, at least from 1947 to 1954. During that time, Hurustiati took part in various efforts to build a good image of Indonesia to support the implementation of foreign policy. This study focuses on examining the role of Hurustiati Soebandrio as a wife of a diplomat from 1947 to 1954. Therefore, the study aims to present the role of women as diplomatic wives in the writing of the history of Indonesian diplomacy. In general, it also aims to encourage the writing of a history of diplomacy that pays attention to the role of women. This study employed the historical method by placing archives, magazines, and newspapers as primary sources. The study shows three images of Indonesia that Hurustiati formed in London, namely Indonesia as an independent country, a country that try to reach gender equality, and a multicultural county. To achieve these three images, Hurustiati made various efforts, such as giving official lectures, holding talks with diplomatic officials and their wives, and initiating exhibitions.
SAFARI “S.S. HOPE”: MISI KEMANUSIAAN AMERIKA SERIKAT DI INDONESIA (1960-1961) Ayu Wulandari
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.316

Abstract

Perang Dingin antara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet membuat dunia terpolarisasi. Untuk mempertahankan eksistensinya, baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet saling berebut pengaruh. Berbagai cara dilakukan oleh keduanya termasuk diantaranya adalah melalui misi-misi kemanusiaan. Amerika Serikat misalnya terbukti pernah mengirimkan misi kemanusiaan dengan media Kapal S.S. Hope yang tujuan utamanya adalah memberikan bantuan medis di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka kajian ini membahas bagaimana safari Kapal S.S. Hope sebagai sebuah misi kemanusiaan dilakukan di Indonesia. Kajian ini dimulai dengan terlebih dahulu melihat historis interkoneksi Indonesia dengan Amerika Serikat. Kajian ini disusun menggunakan metode sejarah dengan majalah dan surat kabar sebagai sumber primernya. Hasil dari kajian ini adalah bahwa selama berlayar di perairan Indonesia, Kapal S.S. Hope singgah di beberapa titik dan memberikan bantuan medis.  Misi yang awalnya ditujukan sebagai misi kemanusiaan ini juga mendapatkan dukungan dari Pemerintah Amerika Serikat, yang bahkan dalam beberapa hal dimanfaatkan untuk menarik dukungan rakyat dan Pemerintah Indonesia dalam kontestasi Perang Dingin. Meskipun demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa misi kemanusiaan ini memberikan dampak yang cukup signifikan khususnya dalam bidang kemanusiaan dan kesehatan di Indonesia.