Kajian ini dilatarbelakangi beberapa kasus santri baru, diantaranya santri mengalami sakit fisik, ketika di rumah sakitnya sembuh. Santri kembali ke pesantren tidak lama kemudian sakit lagi, dan kejadiannya berulang selama satu semester. Kasus yang lebih ekstrim, ketika santri sakit, santri tidak mau pulang lagi ke pesantren. Kasus-kasus ini mengindikasikan kurang maksimalnya konselor di lembaga pendidikan pesantren, dalam membantu penyelesaian masalah yang dialami santri baru. Tujun dari kajian ini, memberikan alternatif solusi bagi konselor di lembaga pendidikan pesantren, dalam penyelesaian permasalahan santri baru, melalui pendekatan konseling multikultural. Pendekatan ini lebih humanis, karena menghargai kultur dari para santri, yang berasal dari berbagai daerah dengan kultur yang berbeda satu sama lain. Jika dilihat dari kategori generasi, saat ini santri baru masuk ke dalam generasi Z. Generasi ini memiliki karakteristik figital, dimana antara realita dan virtual tidak ada pembatas. Penanganan konflik bagi generasi Z perlu sentuhan-sentuhan yang menghargai kulturnya.
Copyrights © 2020