Artikel ini akan mendiskusikan bagaimana kearifan lokal Islami suku Duri diimplementasikan dalam praktek manajerial sekolah di era pandemi Covid-19. Sebagai suku yang telah menrima Islam, kearifan lokal suku Duri seperti sipakatau, sipakalakbih, sipakario, dan sipangingaran kental dengan nilai ajaran Islam. Artikel ini pertama-tama akan menganalisa proses Islamisasi suku Duri dari perspektif historis dan filosofis untuk menunjukan adanya Islamisasi pandangan dunia yang kemudian melahirkan kearifan lokal Islami. Selanjutnya, dengan pendekatan autoetnografis, akan dijabarkan bagaimana kearifan lokal tersebut berperan penting dalam adaptasi manajerial sekolah selama pandemi Covid-19. Penelitian ini berjeniskan Kualitatif menggunakan pendekatan kepustakaan dan lapangan, dan dalam pengumpulan datanya penulis melakukan wawancara dengan tokoh yang mengetahui seluk beluk persoalan yang sedang penulis teliti, selajutnya untuk teknik analis data, penulis menggunakan metode analisis deskriptif yang menjabarkan fakta lapangan dengan teori dari kepustakaan kemudian di sajikan kedalam tulisan ini untuk mendapatkan kesimpulan secara utuh, berdasarkan hasil penelitian, maka kesimpulan yang di dapatkan yaitu, Islamisasi yang terjadi di tanah Duri telah sampai pada tahap pembebasan bahasan dan akal manusia-manusia Duri dari unsur-unsur tidak Islami menjadi lebih sejalan dengan Islam. Oleh karenanya, kearifan lokal yang lahir dan berkembangpun sangat kental dengan nilai-nilai Islam. Kearifan lokal tersebut, terutama sipakatau, sipakalakbi, sipakario, dan sipangingaran, adalah modal yang sangat penting dalam segala aktivitas kehidupan suku Duri, termasuk dalam adaptasi manajerial mengahdapi pandemi Covid-19. Studi kasus ini memang masih berkekurangan sebab lingkupnya yang cukup sempit, namun studi ini bisa menjadi ilustrasi bagaimana penyerapan Islam ke dalam sendi-sendi budaya lokal memiliki efek yang baik bagi masyarakat setempat, dalam hal ini terutama dalam sektor pendidikan dalam suasana bencana (pandemi).
Copyrights © 2021