Munculnya permasalahan yang berlatar pemahaman agama ini dapat menimpa berbagai kelompok dalam satu agama yang sama (sektarian), atau terjadi pada beragam kelompok dalam agamaagama yang berbeda. Biasanya, awal terjadinya konflik berlatar agama ini disulut oleh sikap dari kurangnya terhadap pemahaman tafsir dan paham keagamaan tersebut. Prilaku merasa benar sendiri, serta tidak membuka diri pada tafsir dan pandangan keagamaan orang lain itulah biasanya memunculkan silang pendapat yang berkepanjangan sehingga menimbulkan konflik agama. Falsafah Tri Hita Karana sebenarnya sangat banyak memberikan arah dan tujuan untuk meminimalisir terjadinya prilaku-prilaku yang dapat merugikan keutuhan dan kerukunan dalam beragama yang dapat mengikis persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan Pancasila. Pemahaman ajaran Tri Hita Karana pada dasarnya memuat moderasi baik agama maupun sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Pencarian titik temu agama-agama secara dialogis. Perlu dilog sosial pada mereka yang hidup pada ruang yang sama (desa, banjar). Menggali kearifan lokal baik pada sastra lisan maupun sastra tertulis yang dapat ditafsirkan secara berkontekstual guna menunjang moderasi beragama maupun moderasi lainnya mengingat gejala sosial selalu berkaitan. Pada desa-desa multi agama perlu dibangun kelompok sosial yang menyilang dan memotong guna menumbuhkan solidaritas sosial lintas agama.Kata Kunci: Tri Hita Karana, Moderasi Beragama
Copyrights © 2021