Immaturity in taking an attitude and acting as they should be following the way and order of God's Word can be called a worldly man who has the impact of jealousy, strife, so as to give rise to worldly people who do not know the truth. The natural man will also represent who the believer is. Spiritual maturity that involves God's role in the work of the Holy Spirit will continue to renew the mind and passion to continue fellowship with God. Likewise, what happens for humans who are in Jesus Christ will become a person in His image and become a blessing to others. With descriptive qualitative research methods, the author can describe the classification of the worldly man which refers to the immature in Christ, whose food is still limited to milk, and has an attitude of envy, strife and lives in a worldly manner. In addition, a spiritual person is described by the indicators: leaving childishness, accepting solid food and becoming a peacemaker, so that he can continue to grow, have a changed consciousness in all good things. In the end, the spiritual man can be a blessing and give good fruit to the lives of others. Abstrak Ketidakdewasaan dalam mengambil sikap dan bertindak sebagaimana seharusnya mengikuti cara dan tatanan Firman Tuhan dapat disebut sebagai manusia duniawi yang memiliki dampak iri hati, perselisihan sehingga memunculkan manusia duniawi yang tidak mengenal kebenaran. Manusia duniawi itu juga akan mepresentasikan siapa pribadi orang percaya. Kedewasaan rohani yang melibatkan peran Tuhan dalam karya Roh Kudus akan terus memperbaharui pikiran dan gairah untuk terus bersekutu dengan Tuhan. Demikianlah juga yang terjadi bagi manusia yang ada dalam Yesus Kristus akan menjadi pribadi yang serupa dengan gambarNya dan menjadi berkat bagi sesama. Dengan metode penelitian kualitatif deskriptif, penulis dapat mendeskripsikan klasifikasi manusia duniawi yang mengacu pada belum dewasa dalam Kristus, yang makanannya masih sebatas susu, serta memiliki sikap iri hati, perselisihan dan hidup secara duniawi. Selain itu, dideskripsikan manusia rohani dengan indikator: meninggalkan sifat kanak-kanak, menerima makanan keras dan menjadi pembawa damai, sehingga dapat terus bertumbuh, memiliki kesadaran berubah dalam segala hal yang baik. Pada akhirnya manusia rohani dapat menjadi berkat dan memberikan buah yang baik bagi kehidupan orang lain.
Copyrights © 2020