Mengutif pernyataan pada bagian paling akhir buku ini (Mamonisme, Doridungga Hingga B.j. Habibie, Dalam Diksi Bermada Cinta, oleh Maman A. Majid Binfas), ternyata penulis berupaya merangkai dan menjadikan butiran-butiran jejak diksi kehidupan hingga berwujud goresan cinta sejati dalam pengabdiannya sebagai hamba Allah. Namun, wujud diksi bersuratan, dibaca tidak semata dinilai dengan kaca mata formalitas semata. Berdasarkan kalkulasi standarisasi kehidupan yang materialistis dan hanya dalam dimensi “kaca mata kuda” yang berorientasi pada kadar karakter hedonism atau bergaya mamorisme dunia indrawi saja, dan sungguh fatamorgana.
Copyrights © 2021