Penelitian ini ingin melihat bangunan hubungan sosial masyarakat Muslim-Kristen pasca konflik Horisontal di Kabpuaten Poso. Rentan waktu 20 tahun pasca konflik, masyarakat Poso tentunya memiliki perspekti baru yang berbeda dari perspektif sebelumnya saat konflik belum lama selesai. Memahami apa yang terjadi dalam suasana kebatinan masyarakat yang terlibat konflik, tentu menjadi sangat penting sebagai acuan bagaimana rekonsiliasi bisa dicapai. Dalam terminology tersebut, dua masyarakat yang berkonflik membentuk realitas sendiri terhadap apa yang tengah dialami. Kabupaten Poso di Sulawesi Tengah merupakan daerah yang pernah dilandak konflik Horizontal yang berkepanjangan. Perundingan demi perundingan ditempuh untuk menyelesaikan konflik dari dua komunitas agama yang berselisih. Perundingan terakhir perjanjian Malino pun belum menghentikan eskalasi konflik di daerah tersebut. Lahir kemudian program deradikalisasi sebagi upaya meredam tingkat radikalisme di Kabupaten Poso. Hasil penelitian ini menemukan, bahwa masyarakat bahwa tokoh-tokoh agama sebagai cerminan masyarakat Poso, telah membentuk realitas baru dalam memandang konflik Poso. Muslim dan Kristen sudah dapat kembali berbaur sebagaimana biasa. Realitas baru tersebut menginternalisasi menjadi fakta sosial yang di bangun di Kabupaten Poso.
Copyrights © 2019