Praktik gerakan literasi madrasah sudah terlaksana. Banyak madrasah yang sudah menerapkan literasi. Namun, tidak semua gerakan literasi tersebut dipraktikkan dengan cara yang menyenangkan dan menghasilkan manfaat terutama bagi siswa. Pembelajaranliterasi kreatif berbasis kearifan lokal bisa menjadi salah satu alternatif pembelajaran pada era revolusi industri 4.0. Literasi kreatif melibatkan multiliterasi di anataranya adalah literasi budaya. Siswa sebagai pewaris budaya menjadi titik tumpu utama untuk melestarikan budaya sebagai tindak lanjutdari literasi budaya. Pendidikan, budaya yang berbasis kearifan lokal, dan teknologi merupakan mata rantai yang tidak bisa dipisahkan. Artikel ini bertujuan mendalami pelaksanaan kegiatan literasi kreatif berbasis kearifan lokal di MAN 3 Jombang. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis deskriptif. Lokasi penelitian bertempat di MAN 3 Jombang. Subjek penelitian adalah tim literasi madrasah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwagerakan literasi kreatif berbasis kearifan lokal telah dilaksanakan di MAN 3 Jombang dengan berbagai kegiatan literasi baik yang bersifat pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran melalui Mispin Wabesshodobukla. MAN 3 Jombang merupakan salah satu madrasah yang terus berupaya membuat praktik berliterasi yang menyenangkan berbasis kearifan budaya lokal dan berwawasan internasional. Nilai-nilai keindonesiaan tetap menjadi tumpuan utama. Mispin Wabesshdobukla merupakan akronim dari mistar pintar, wayang, Besutan, shodou, dongeng, buku, dan lagu.
Copyrights © 2020