Pembahasan dalam artikel ini didasari oleh asumsi adanya hubungan pengaruh mempengaruhi antara bahasa dengan karakter budaya. Pertanyaan utama dalam artikel ini adalah pada titik manakah bahasa dapat mempengaruhi karakter kebudayaan masyarakat Ternate, dan pada titik manakah kedua masyarakat dapat memberikan intervensi terhadap budaya berbahasa. Penjelasan terhadap kedua pertanyaan tersebut terambil dari data tindak tutur yang dikumpulkan di empat PAUD di Pulau Ternate. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik sadap, rekam, catat, dan simak. Hubungan timbal balik antara bahasa dan karakter budaya masyarakat setidaknya dapat dilacak pada bentuk tuturan direktif yang mengandung berbagai fungsi, strategi dan modus tertentu terhadap mitra tutur. Hasil temuan mengungkapkan bahwa tindak tutur direktif anak didik PAUD di Pulau Ternate terealisasi dalam bentuk mengajak, menasehati, memerintah, melarang, meminta, menawarkan, dan mengijinkan. Tindak tutur direktif anak usia dini tersebut pada realitasnya kurang bersesuaian dengan norma kesantunan dalam masyarakat Ternate yang cenderung menggunakan strategi tuturan tidak langsung, dan penggunaan kosa kata tertentu. Fenomena ketidaksesuaian tindak tutur direktif anak usia dini dangan norma kesantunan di kalangan orang dewasa di Ternate akan mengakibatkan menghilangnya pengetahuan makna kosa kata literal dan kemampuan bertutur santun dalam generasi muda masyarakat Ternate. Tindakan antisipasi yang memungkinkan terhadap hal tersebut antara lain dengan memasukkan muatan lokal ke dalam kurikulum PAUD untuk mendekatkan kosa kata bahasa tempatan kepada generasi muda sejak dini. Kata kunci: realisasi tindak tutur direktif, anak usia dini, norma kesantunan masyarakat Ternate
Copyrights © 2020