This article describes the dynamics of the indigenous people of Cireundeu in Cimahi with their specific systems in responding to the current modernization and Islamic da’wa activities. Using a qualitative approach, this article argues that the encounter of their traditions with modernization and Islamic da’wa activities which are new traditions, has made indigenous peoples syncretize through parochalization and universalization. Parochialization is carried out by adjusting outside traditional values through their symbols, while universalization is carried out by promoting their local values or practices such as food security into a broader norm. However, interactions with various other traditions have shown continuity in customary preservation and at the same time have shown discontinuity in symbolic matters, their norms, and practices as indigenous people.Artikel ini menguraikan tentang dinamika masyarakat adat Cireundeu di Cimahi dengan berbagai sistem spesifik yang dimilikinya dalam merespon arus modernisasi dan aktivitas dakwah Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, artikel ini berargumen bahwa perjumpaan tradisi mereka dengan modernisasi dan aktivitas dakwah Islam yang merupakan tradisi-tradisi baru telah membuat masyarakat adat melakukan sinkretitasi melalui parokialisasi dan universalisasi. Parokialisasi dilakukan dengan penyesuaian nilai-nilai tradisi luar melalui simbol-simbol mereka dan universalisasi dilakukan dengan mempromosikan nilai-nilai atau praktik-praktik lokal mereka seperti ketahanan pangan menjadi norma yang lebih luas. Namun demikian, interaksi dengan berbagai tradisi lain ini telah memperlihatkan kontinuitas dalam dalam pelestarian adat dan pada saat yang sama telah pula mempelihatkan gejala diskontinuitas pada hal-hal yang bersifat simbolik, norma dan praktik mereka sebagai masyarakat adat.
Copyrights © 2021